Jakarta tidak pernah benar-benar peduli pada siapa yang sedang lelah.
Ia tetap bergerak.
Tetap bising.
Tetap penuh.
Bahkan saat hujan turun deras sekalipun, kota ini tidak benar-benar berhenti, hanya melambat sedikit, lalu kembali seperti biasa.
Dan mungkin, tanpa aku sadari, aku juga mulai menjadi seperti itu.
Pagi datang terlalu cepat. Alarm berbunyi sebelum tubuhku benar-benar siap untuk bangun.
Aku membuka mata dengan perasaan yang sama seperti kemarin, lelah, tapi tidak punya pilihan selain melanjutkan.
Dari dapur, suara piring beradu pelan.
“Ibu berangkat lebih pagi hari ini,” katanya tanpa menoleh.
Aku mengangguk, meski ia tidak melihat.
Di atas meja, ada catatan kecil. Tulisan ibu rapi, seperti biasanya.
Bayar listrik minggu ini, ya.
Jangan lupa uang sekolah adik.
Aku membaca pelan. Tidak ada nada memaksa.
Tidak ada kata “harus”. Tapi entah kenapa, semuanya tetap terasa seperti kewajiban yang tidak bisa ditunda.
Sebagai anak pertama, aku tidak pernah benar-benar diberi pilihan untuk gagal.
Bukan karena keluargaku keras.
Tapi karena keadaan, tidak memberi ruang untuk itu. Hari itu jalanan lebih macet dari biasanya.
Busway penuh. Orang-orang berdiri berdesakan, saling diam dalam kelelahan masing-masing.
Aku berdiri di dekat pintu, berpegangan pada tiang besi. Tubuhku sedikit terhimpit, tapi aku sudah terbiasa.
Di luar, langit terlihat gelap. Hujan akan turun lagi.
Aku turun di halte seperti biasa. Langkahku terasa lebih berat dari kemarin. Atau mungkin, pikiranku yang terlalu penuh.
Aku berdiri di tempat yang sama. Dan seperti biasa, mataku mulai mencari.
Aksa.
Ia datang beberapa menit kemudian. Dengan payung hitamnya. Dengan langkah yang tenang. Dengan wajah yang entah kenapa, hari ini terlihat lebih lelah.
“Kamu kelihatan capek,” katanya.
Aku tersenyum kecil.
“Kamu juga.”