Aku Lupa Akan Derasnya Hujan

Rahmah Athaillah
Chapter #5

Rumah yang Tidak Selalu Hangat

Ada rumah yang membuat seseorang ingin segera pulang.

Dan ada rumah yang membuat seseorang menunda kepulangan selama mungkin.

Rumahku tidak buruk.

Tidak pernah ada bentakan setiap hari. Tidak ada piring yang dilempar. Tidak ada pintu yang dibanting keras hingga membuat tetangga menoleh.

Tapi rumahku juga tidak selalu hangat.

Kadang, rumah hanya menjadi tempat untuk mengumpulkan lelah yang tidak sempat dirasakan di luar.

Aku sering pulang setelah magrib.

Bukan karena pekerjaanku menuntut demikian.

Tapi karena perjalanan pulang terasa lebih mudah daripada benar-benar sampai di rumah.

Di busway, aku masih bisa menjadi orang asing.

Di rumah, aku harus menjadi anak pertama.

Malam itu, hujan turun sejak sore.

Aku membuka pintu perlahan. Lampu ruang tamu masih menyala. Ibu duduk di sofa dengan beberapa lembar kertas di pangkuannya.

Tagihan.

Aku mengenalinya bahkan sebelum sempat membaca.

"Kamu baru pulang?"

Aku mengangguk. "Iya, Bu."

"Capek?"

Aku tersenyum kecil. "Sedikit."

Padahal sebenarnya lebih dari itu.

Tapi di rumah kami, jawaban "capek" sering kali dianggap sebagai keluhan.

 Dan aku tidak ingin terdengar mengeluh. Ibu menghela napas pelan.

"Besok uang sekolah adikmu harus dibayar."

Aku mengangguk lagi.

Tidak ada yang aneh.

Pembicaraan seperti ini sudah terlalu sering terjadi.

Kadang aku bertanya-tanya.

Sejak kapan aku lebih sering membicarakan tagihan daripada mimpi?

Aku masuk ke kamar. Kamar yang ukurannya tidak terlalu besar. Di dinding masih ada beberapa catatan target yang kutulis beberapa bulan lalu.

Sebagian besar belum tercapai.

Sebagian lagi bahkan sudah tidak lagi kuingat.

Ponselku bergetar.

Nama Aksa muncul di layar.

-Sudah sampai rumah?-

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Lalu mengetik balasan.

-Sudah.-

Lihat selengkapnya