Aku Lupa Akan Derasnya Hujan

Rahmah Athaillah
Chapter #6

Aku yang Mulai Menjauh

Ada jenis lelah yang bisa hilang setelah tidur.

Dan ada jenis lelah yang ikut terbangun bersama kita keesokan harinya. Aku sedang mengalami yang kedua.

Hari-hari setelah itu terasa semakin padat. Tagihan yang belum selesai. Kebutuhan rumah yang terus bertambah. Pekerjaan yang tidak memberi banyak jeda.

Dan di antara semua itu, aku tetap menjadi orang yang sama. Orang yang harus terlihat baik-baik saja.

Kadang aku iri pada hujan. Ia bisa jatuh sesuka hati. Bisa deras tanpa harus menjelaskan alasan. Bisa mengosongkan dirinya sampai habis.

Sementara aku, bahkan menangis pun harus mencari waktu yang tepat.

Akhir-akhir ini, aku mulai lebih sering pulang dengan kepala yang penuh. Begitu penuh sampai tidak ada lagi ruang untuk bercerita.

Termasuk kepada Aksa.

Padahal sebelumnya, aku selalu menunggu sore.

Menunggu halte.

Menunggu hujan.

Menunggu percakapan-percakapan kecil yang tidak penting, tapi selalu membuat hari terasa lebih ringan.

Sekarang, bahkan untuk membalas pesan pun rasanya melelahkan.

-Jangan lupa makan.-

Pesan dari Aksa masuk saat jam istirahat.

Aku membacanya. Lalu menguncinya kembali. Berniat membalas nanti.

Tapi "nanti" sering kali berubah menjadi malam. Dan malam berubah menjadi besok. Aku tidak bermaksud mengabaikannya. Aku hanya sedang berusaha bertahan.

Namun terkadang, orang yang sedang tenggelam terlalu sibuk menyelamatkan dirinya sendiri hingga lupa bahwa ada seseorang yang sedang berdiri di tepi, menunggu kabar.

Sore itu, hujan turun tipis.

Aku tiba di halte lebih lambat dari biasanya. Aksa sudah ada di sana.

Seperti biasa.

Tapi aku langsung tahu ada sesuatu yang berbeda.

Mungkin karena kali ini ia tidak tersenyum terlebih dahulu.

"Kamu telat."

Aku mengangguk. "Maaf."

"Macet?"

Aku kembali mengangguk.

Padahal bukan hanya itu. Tapi aku tidak punya tenaga untuk menjelaskan.

Kami berjalan berdampingan.

Di bawah payung yang sama.

Lihat selengkapnya