Aku Lupa Akan Derasnya Hujan

Rahmah Athaillah
Chapter #7

Hujan yang Terlalu Deras

Ada masa ketika seseorang tidak lagi bertanya, "Kenapa ini terjadi padaku?"

Karena hidup sudah terlalu sering memberi ujian. Yang tersisa hanya satu pertanyaan: "Kapan semua ini selesai?"

Aku tidak ingat kapan tepatnya semuanya mulai terasa terlalu berat. Mungkin sejak tagihan yang terus bertambah.

Mungkin sejak kebutuhan rumah yang tidak pernah benar-benar selesai.

Atau mungkin sejak aku mulai menyimpan terlalu banyak hal sendirian.

Yang pasti, aku mulai merasa lelah. Bukan lelah yang bisa hilang dengan tidur. Bukan lelah yang bisa sembuh dengan liburan.

Tapi lelah yang tinggal di dalam dada.

Diam.

Dan semakin hari semakin penuh.

Awal bulan biasanya menjadi waktu yang paling menegangkan. Karena di rumah kami, awal bulan bukan tentang gaji yang datang.

Tapi tentang kebutuhan mana yang harus didahulukan.

Malam itu, ibu duduk di meja makan dengan wajah yang lebih murung dari biasanya.

Ayah diam.

Adik-adikku bahkan tidak banyak bicara.

Rumah terasa seperti sedang menahan sesuatu.

"Ayah belum dapat kabar lagi?" tanya ibu pelan.

Ayah menggeleng.

Aku tahu maksudnya. Proyek tambahan yang biasanya membantu keuangan keluarga belum juga cair.

Tidak ada yang menangis.

Tidak ada yang marah.

Tapi justru itulah yang membuat semuanya terasa lebih sesak. Karena kadang-kadang, kesedihan paling berat datang dalam bentuk keheningan.

Malam itu aku menghitung saldo rekeningku berkali-kali. Seolah angka itu akan berubah jika kulihat lebih lama.

Tapi tetap sama.

Tetap tidak cukup.

Aku memejamkan mata. Mencoba menghitung kemungkinan. Mencoba mencari jalan keluar. Mencoba menjadi anak pertama yang selalu punya jawaban. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menemukan satu pun.

Hari-hari berikutnya terasa seperti hujan yang turun tanpa jeda.

Ibu mulai lebih sering terlihat cemas. Ayah lebih banyak diam. Adik bungsuku mulai bertanya tentang biaya kegiatan sekolah yang belum dibayar.

Dan setiap kali mereka bertanya, entah kenapa semua mata terasa mengarah kepadaku.

Bukan karena mereka memaksaku. Bukan karena mereka menuntutku.

Tapi karena aku sendiri yang terlalu lama menjadikan diriku sebagai tempat bergantung.

Sampai akhirnya aku lupa, bahwa aku juga manusia.

Aku mulai mengambil pekerjaan tambahan. Pulang lebih malam. Tidur lebih sedikit. Makan seadanya.

Tubuhku mulai memberi tanda. Sakit kepala. Mudah lelah. Sulit tidur.

Tapi aku mengabaikannya.

Karena menurutku, ada hal-hal yang lebih penting daripada diriku sendiri. Dan mungkin, itu kesalahan terbesarku.

Aksa mulai semakin jarang melihatku tersenyum.

Lihat selengkapnya