Aku Lupa Akan Derasnya Hujan

Rahmah Athaillah
Chapter #8

Lelah yang Tidak Diucapkan

Tidak semua perpisahan dimulai dengan pertengkaran. Tidak semua jarak lahir dari kesalahan. Kadang-kadang, dua orang hanya sama-sama lelah.

Dan sayangnya, lelah adalah hal yang paling sulit dijelaskan kepada seseorang yang kita cintai.

Setelah sore itu, ketika aku menangis di halte dan mengaku bahwa aku tidak kuat, ada banyak hal yang berubah.

Dan sekaligus, tidak berubah sama sekali.

Aku masih pergi bekerja. Masih pulang dengan tubuh yang lelah. Masih membantu kebutuhan rumah semampuku. Masih menjadi anak pertama yang berusaha terlihat baik-baik saja.

Aksa juga masih ada. Masih mengirim pesan. Masih menanyakan kabarku. Masih berdiri di halte yang sama.

Semuanya terlihat sama. Jika dilihat dari luar.

Tapi ada sesuatu yang mulai bergeser. Perlahan. Hampir tidak terlihat. Seperti hujan yang berubah menjadi gerimis tanpa kita sadari.

Aku mulai semakin sering bercerita. Tentang tagihan. Tentang rumah. Tentang rasa takut. Tentang hari-hari yang terasa terlalu berat.

Dan Aksa selalu mendengarkan.

Seperti biasa.

Tapi aku tidak menyadari satu hal. Selama ini aku terlalu fokus pada apa yang kurasakan.

Sampai lupa bertanya, bagaimana kabarnya.

Suatu sore, kami duduk di bangku halte. Langit mendung. Bus datang dan pergi. Orang-orang berlalu lalang.

"Akhir-akhir ini kerjaan lagi banyak?" tanyaku.

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Dan aku baru sadar, sudah lama sekali aku tidak menanyakannya.

Aksa terlihat sedikit terkejut.

Lalu tersenyum. Tipis. "Lumayan."

Hanya itu.

Dulu aku mungkin akan bertanya lebih lanjut. Tapi sekarang pikiranku terlalu penuh.

Aku mengangguk. Lalu kembali menceritakan masalah yang sedang kuhadapi. Dan ia kembali mendengarkan.

Seperti biasa.

Beberapa hari kemudian, aku menemukan sesuatu yang aneh.

Aksa mulai lebih sering diam. Bukan diam seperti aku. Bukan diam karena sulit mengungkapkan perasaan. Tapi diam yang berbeda.

Lihat selengkapnya