Tidak ada yang benar-benar berubah dalam semalam. Perasaan tidak hilang begitu saja saat matahari terbit. Kedekatan tidak lenyap hanya karena satu percakapan.
Dan seseorang tidak tiba-tiba menjadi asing setelah sekian lama hadir dalam hidup kita.
Semuanya terjadi perlahan. Terlalu perlahan, sampai kita tidak sadar. Seperti hujan yang reda. Tidak pernah benar-benar berhenti dalam satu detik. Ia hanya semakin pelan.
Semakin ringan. Sampai suatu saat kita mendongak dan menyadari, langit sudah tidak menangis lagi.
Begitu pula kami.
Aku dan Aksa masih bertemu. Masih di halte yang sama.
Masih di jam yang hampir sama. Masih di bawah langit Jakarta yang tidak pernah benar-benar bersih.
Tapi ada sesuatu yang tidak lagi sama. Percakapan kami mulai berkurang. Dulu, perjalanan lima belas menit terasa terlalu singkat. Sekarang, bahkan tiga puluh menit bisa berlalu tanpa banyak kata.
Dan anehnya, kami berdua menyadarinya. Tapi tidak ada yang membahasnya.
Suatu sore, hujan turun tipis. Gerimis yang membuat jalanan tampak lebih muram dari biasanya. Aku berdiri di halte sambil memperhatikan kendaraan yang bergerak lambat.
Aksa datang beberapa menit kemudian.
"Hai."
"Hai."
Hanya itu.
Dulu, sapaan sederhana selalu berlanjut menjadi banyak hal. Tentang hari yang melelahkan.
Tentang orang-orang yang kami temui. Tentang hal-hal kecil yang tidak penting.
Sekarang, semuanya berhenti pada sapaan. Dan kami berdua sama-sama berpura-pura tidak merasakannya.
Ada kalanya aku ingin bertanya.
Apa kita baik-baik saja?
Tapi pertanyaan itu selalu berhenti di tenggorokan. Karena jauh di dalam hati, aku sudah tahu jawabannya.
Kami masih saling peduli.
Masih saling menyayangi.
Masih saling mendoakan.
Tapi mungkin, kami mulai kehilangan cara untuk saling menjangkau.
Malam-malamku kembali menjadi sunyi. Bukan karena Aksa pergi. Ia masih mengirim pesan. Masih menanyakan kabarku. Masih mengingatkan aku makan.
Tapi sekarang semuanya terasa berbeda.
Lebih singkat. Lebih jarang. Lebih hati-hati.
Seperti dua orang yang sedang berusaha menjaga sesuatu yang mulai rapuh.
Dan semakin hati-hati kami melangkah, semakin terasa bahwa ada sesuatu yang sedang retak.
Suatu malam aku membuka percakapan lama kami. Aku membaca pesan-pesan dari beberapa bulan lalu.
Saat semuanya masih mudah. Saat tawa masih sering muncul.