Pada akhirnya, tidak semua orang pergi dengan suara pintu yang dibanting.
Tidak semua perpisahan ditandai dengan air mata, pertengkaran, atau kata-kata yang melukai.
Ada kepergian yang datang begitu tenang.
Begitu pelan.
Sampai kita baru menyadari kehilangannya ketika semuanya benar-benar sudah berlalu.
Aku selalu mengira perpisahan akan terasa seperti badai. Ternyata tidak.
Perpisahan justru lebih mirip hujan yang berhenti.
Tidak ada suara.
Tidak ada tanda.
Hanya sebuah kesadaran yang datang terlambat, bahwa langit sudah tidak lagi menurunkan apa pun.
Hari itu, Jakarta tidak sedang hujan.
Langit abu-abu menggantung rendah, tapi tidak benar-benar gelap.
Aku datang lebih awal ke halte.
Entah karena ingin. Atau karena beberapa hari terakhir aku merasa ada sesuatu yang harus diselamatkan.
Sudah hampir dua minggu kami tidak benar-benar berbicara.
Bukan tidak bertemu.
Kami masih bertemu.
Masih berjalan bersama.
Masih saling mengabari.
Tapi seperti dua orang yang berdiri di tepi sungai yang berbeda. Sama-sama melihat ke arah yang sama. Namun tidak lagi bisa saling menjangkau.
Aku melihat Aksa dari kejauhan. Seperti biasa. Dengan langkah tenangnya. Dengan payung hitam yang selalu ia bawa, bahkan ketika hujan tidak turun.
Untuk sesaat, aku merasa lega. Karena ternyata ia masih datang. Tapi saat ia berdiri di sampingku, aku langsung tahu. Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan pada wajahnya.
Bukan pada suaranya.
Melainkan pada caranya memandangku. Seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan.
Dan keputusan itu bukan lagi milikku untuk mengubah.
"Husna."
Aku menoleh.
"Iya?"
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang pernah menjadi tempat paling nyaman dalam hidupku. Dan entah kenapa, sore itu senyum itu terasa sangat jauh. Kami tidak langsung bicara lagi.
Bus datang.
Bus pergi.
Orang-orang berlalu lalang.
Jakarta tetap sibuk.
Seolah tidak ada satu pun hal penting yang sedang terjadi.
Padahal ada sesuatu yang sedang berakhir.
Dan aku bisa merasakannya.
"Aku akhir-akhir ini banyak mikir."