Setelah Aksa pergi, tidak ada yang benar-benar berubah.
Jakarta masih macet. Bus masih datang terlambat. Halte masih penuh oleh orang-orang yang ingin segera sampai ke tujuan. Dan hujan masih turun sesekali, seperti biasa.
Tapi ada satu hal yang berubah.
Aku.
Atau mungkin, bukan berubah.
Melainkan kehilangan sesuatu yang selama ini tidak kusadari telah menjadi bagian dari hidupku.
Hari-hari setelah itu berjalan dengan cara yang aneh.
Tidak terlalu menyakitkan.
Tapi juga tidak benar-benar baik-baik saja.
Seperti luka yang tidak berdarah. Namun tetap terasa setiap kali disentuh.
Aku masih datang ke halte yang sama. Masih berdiri di tempat yang sama. Masih memperhatikan jalan yang sama.
Dan tanpa sadar, aku masih mencari seseorang yang sudah tidak ada di sana.
Kadang aku membenci diriku sendiri karena itu.
Karena bukankah yang memilih pergi adalah dia?
Lalu kenapa aku masih menunggu?
Tapi mungkin hati memang tidak pernah benar-benar logis.
Ia selalu datang terlambat dalam menerima kenyataan.
Malam-malam menjadi lebih panjang. Aku lebih sering terjaga. Lebih sering duduk di dekat jendela.
Lebih sering mendengarkan suara kota yang perlahan sepi.
Dan di jam-jam seperti itu, aku mulai berbicara pada diriku sendiri.
Tentang Aksa.
Tentang kami.
Tentang hal-hal yang tidak pernah berhasil kuucapkan.
Karena ternyata, ada begitu banyak kata yang tertinggal.
Terlalu banyak.
Aku ingin mengatakan bahwa aku berterima kasih. Karena selama ini ia tetap tinggal saat aku sulit dicintai.
Aku ingin mengatakan bahwa aku minta maaf. Karena terlalu sering menjadikannya tempat berteduh, tanpa pernah bertanya apakah ia juga sedang kehujanan.
Aku ingin mengatakan bahwa aku tahu. Aku tahu ia lelah. Aku tahu ia berusaha. Aku tahu ia bertahan lebih lama daripada yang seharusnya.
Tapi semua itu tidak pernah berhasil keluar.
Dan sekarang. rasanya sudah tidak ada gunanya lagi.
Suatu malam aku membuka ruang percakapan kami.
Percakapan yang kini berhenti.
Tidak ada pertengkaran.
Tidak ada blokir.
Tidak ada kalimat terakhir yang menyakitkan. Hanya percakapan yang berhenti tumbuh.
Aku menggulir pesan-pesan lama.
Sampai akhirnya menemukan satu pesan yang dulu tidak terlalu kupikirkan.
‘Kalau suatu hari aku nggak ada, jangan lupa jaga diri sendiri ya.’