Hujan turun sejak pagi.
Langit kelabu menggantung rendah di atas pemakaman, seolah ikut berduka atas kematian Clara Wijaya.
Aku berdiri mematung di depan liang lahat dengan payung hitam di tangan, sementara tanah basah perlahan menelan peti putih milik kakakku.
Semua terasa tidak nyata.
Tiga hari lalu Clara masih mengirimiku pesan.
“Nanti malam jangan keluar rumah, Elena.”
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan lain.
Lalu keesokan paginya, polisi datang membawa kabar bahwa kakakku ditemukan tewas di sebuah apartemen mewah di pusat kota.
Dan sejak saat itu, hidupku seperti jatuh ke jurang yang tidak berdasar.
“Yang sabar, Nak…”
Beberapa pelayat menepuk pundakku pelan, tapi suaranya terdengar jauh.
Aku bahkan hampir tidak bisa mendengar suara tangis ibuku sendiri.
Kepalaku terlalu penuh.
Marah.
Takut.
Dan hancur.
Lalu aku melihatnya.
Pria itu berdiri di bawah hujan beberapa meter dari makam Clara.
Jas hitamnya basah.
Tatapannya dingin.
Terlalu tenang untuk seseorang yang baru kehilangan orang yang dicintainya.
Atau mungkin…
terlalu tenang untuk seorang pembunuh.
Adrian Mahendra.
Nama itu sudah memenuhi berita selama tiga hari terakhir.
Pengusaha muda.
Pewaris Mahendra Group.
Dan tersangka utama pembunuhan Clara Wijaya.
Tanganku mengepal begitu kuat sampai kukuku menusuk telapak tangan sendiri.
“Apa yang dia lakukan di sini…?” bisikku lirih.
Ibuku menegang di sampingku.
“Jangan membuat keributan,” katanya cepat.
Keributan?
Aku nyaris tertawa.
Pria itu diduga membunuh anaknya, tapi ibuku malah takut membuat keributan?
Adrian mulai berjalan mendekat.
Langkahnya tenang.
Tatapannya lurus ke arahku.
Setiap langkahnya membuat dadaku semakin panas.
Aku membencinya.
Aku membenci cara dia terlihat begitu sempurna bahkan di tengah pemakaman kakakku sendiri.
Dan yang paling kubenci—
adalah fakta bahwa Clara pernah mencintainya.
Sangat mencintainya.
“Turut berduka cita.”
Suara Adrian rendah dan datar saat akhirnya berdiri di depanku.