“Aku tidak akan menikah denganmu.”
Suaraku keluar lebih cepat daripada pikiranku sendiri.
Tegas.
Penuh kebencian.
Namun Adrian Mahendra bahkan tidak berkedip.
Dia tetap berdiri di bawah hujan dengan ekspresi dingin yang membuatku ingin menamparnya sekali lagi.
“Aku serius,” lanjutku. “Aku lebih baik hidup di jalanan daripada menikah dengan pembunuh.”
Rahang Adrian sedikit menegang.
Hanya itu.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada pembelaan.
Pria ini benar-benar menyebalkan.
Ayahku tiba-tiba menarik lenganku pelan.
“Elena…”
Aku menoleh cepat. “Ayah jangan bilang Ayah mempertimbangkannya.”
Ayah terlihat jauh lebih tua hari itu.
Matanya merah.
Wajahnya pucat.
Aku baru sadar dalam beberapa minggu terakhir, rambut ayah yang biasanya rapi mulai dipenuhi uban.
“Ayah tidak punya pilihan,” katanya lirih.
Dadaku terasa sesak.
“Kita pasti bisa cari cara lain.”
“Tidak ada waktu lagi.”
Aku menggigit bibir keras.
Bahkan ibuku hanya diam sambil menangis pelan.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku benar-benar memahami seperti apa rasanya terpojok.
Dan aku membencinya.
“Berapa utangnya?” tanyaku pelan.
Ayah tidak menjawab.
Namun pria tua dari bank tadi maju selangkah.
“Tujuh belas miliar.”
Aku hampir kehilangan keseimbangan.
“Tujuh belas—?”
“Itu termasuk bunga dan tuntutan kerja sama yang gagal.”
Kepalaku mendadak pusing.
Jumlah sebesar itu mustahil dilunasi keluarga kami.
Rumah akan disita.
Perusahaan bangkrut.
Dan setelah kematian Clara…
kami benar-benar hancur.
“Aku akan memberi kalian waktu berpikir sampai besok malam.”
Suara Adrian kembali terdengar.
Tenang.
Datar.
Seolah dia sedang membicarakan kontrak bisnis biasa.
Bukan pernikahan.
“Aku tidak butuh cinta,” lanjutnya. “Aku hanya butuh Elena menjadi istriku.”
Aku menatapnya tajam.