Sore di Jakarta adalah melankolia bagi Aksara. Gadis pertengahan dua puluh yang dirundung patah hati bertubi-tubi. Ia di layoff dari kantornya, sebulan setelah papanya dimakamkan. Ia berusaha membendung air mata semampunya, tapi pecah juga di tangga stasiun LRT Rasuna Said. Bukan langkahnya saja yang berat karena menapaki satu demi satu anak tangga, tapi hatinya juga berat menanggung semua dukanya. Aksara sudah terlampau kuat. Tangisnya pecah di batas akhir kemampuannya memendam kesedihan.
Ia duduk di anak tangga, menangis sambil merangkul lututnya. Aksara merasa sendiri di tengah keramaian orang-orang yang memburu tempat duduk di kereta. Tak ada satupun yang peduli, hanya wajah bingung dan ekspresi aneh yang terpancar dari rautnya. Mereka sudah tak mampu lagi berempati pada masalah seseorang. Individualistis. Mereka yang tengah berlalu lalang sudah memiliki beban yang dibawa pulang.
Lengan Aksara sudah sangat basah tersiram air matanya. Puncak luka telah menguasainya secara paripurna. Ia sangat butuh pelukan atau usapan lembut di kepalanya, yang biasanya ia dapatkan itu semua dari papanya.
“Papa…” sepatah kata meluncur pilu dari bibir Aksara, kata yang selalu diucapkan saat kesedihannya memuncak di depan papanya saat masih ada.
Sesaat kemudian, ia merasakan seseorang menepuk pundaknya, ia mencium aroma maskulin dari parfum yang ia kenal, berpadu dengan aroma tembakau. Degup jantung Aksara melonjak dan membuat ia mengangkat kepalanya. Secara bias ia melihat seorang pria di dekatnya, satu-satunya orang yang peduli padanya di tengah keramaian.
“Pa..” Aksara menarik kata-katanya, ia pikir itu papanya yang kembali padanya menembus batas rasionalitas. Ternyata bukan, saat semuanya tampak jelas, ia melihat pria asing mendekati paruh baya dengan rambut yang mulai memutih, tapi masih tampil Kasual dipadu jas simpel dan chino pants. Pria itu tersenyum hangat pada Aksara.
“Kamu kenapa?” ucap pria itu lembut.
Aksara segera menyeka air matanya, ia baru sadar sepenuhnya bahwa ia menangis di tempat yang tidak seharusnya. Ia baru sadar juga telah menarik banyak perhatian orang-orang. Ia langsung merasa rikuh sekaligus malu pada pria di hadapannya.
“Nggak apa-apa, maaf Om, saya ganggu jalan Om, ya?” ucapnya sesenggukan sambil mencoba bangkit.
“Eh, nggak, kok, saya cuma nggak tega aja ngeliat ada perempuan hancur sendirian di tangga yang keras ini!”
Aksara hanya tertegun. Ia teringat papanya yang senang menggunakan diksi-diksi macam ini.
“Kalau kamu butuh teman cerita singkat, I am all ears, Aksara?” ujar pria itu dengan tatapan yang lembut di balik kacamata minusnya.
“Om tahu nama saya?” Aksara terkejut.
Pria itu hanya merespon dengan melirik ke arah ID card, yang masih menggantung di leher Aksara. Menyadari itu, Aksara segera melepas ID card-nya, ia sadar, seharusnya ia meninggalkan ID card ini di meja kantor yang membuangnya.
“Saya udah nggak kerja di sini lagi!”
“Aksara. Nama yang bagus. Nama yang kuat untuk seseorang yang sedang dituliskan nasibnya oleh waktu!” tambah pria itu. “Oh, ya, kita belum kenalan, saya Aras! Aras Nirwasita!” pria itu menjulurkan tangan mengajak Aksara berkenalan.
Ada rasa aneh yang mengguncang Aksara. Biasanya ia selalu tidak nyaman ketika seseorang yang tidak dikenal, apalagi pria mengajaknya berbicara sedekat ini. Namun Aras terasa berbeda. Wajahnya teduh, aromanya mirip papanya, kalimat demi kalimatnya telah sedikit memperbaiki hatinya.
“Aksara Puspita!” Aksara menyambut tangan Aras.
*
Mereka meninggalkan stasiun LRT, berjalan beberapa meter ke tempat pedagang kaki lima yang berdagang di trotoar Rasuna Said, tepat di bawah rel LRT yang selalu ramai oleh karyawan yang menunda kepulangan karena enggan menjemput takdir berdiri berdesakan di LRT saat jam pulang kerja.
Hanya butuh beberapa menit untuk Aksara dan Aras mengenal satu sama lain. Aras adalah seorang event planner yang menjadi konsultan event di beberapa perusahaan di Kuningan dan sekitarnya. Selain itu ia pun membuat berbagai event musik di ruang-ruang terbuka, menghidupkan malam-malam Jakarta dengan melodi yang seringkali ia kurasi sendiri. Di balik jas simpelnya, Aras adalah seorang konduktor keramaian, tapi sore itu ia justru memilih menjadi pendengar bagi seorang gadis yang hancur di tangga stasiun.