Aku Siap Patah Hati Lagi

Galih Aditya
Chapter #2

Seorang Ibu yang Ingin Bersama Anaknya

Di kamar yang serba mahal itu. Dengan tempat tidur king size yang empuknya seolah mampu menelan seluruh rasa bersalah, lemari jati premium yang kokoh, hingga meja rias anggun tempat ia melukis wajah setiap pagi, Zara, wanita yang melahirkan Aksara justru merasa kesepian di dalam istananya sendiri. Aroma harum dari diffuser yang memenuhi ruangan tak mampu mengusir ingatan tentang aroma kertas tua dari naskah-naskah Raka. Di balik balutan daster sutranya, ia adalah seorang wanita yang telah menukar jiwanya dengan kenyamanan materi, tapi kini sedang merangkak kembali dalam gelap untuk menjangkau putrinya yang ia patahkan hatinya sepuluh tahun lalu.

Ia duduk di sofa tunggal yang harganya setara 80% gaji Aksara, merenung di depan jendela besar kamarnya yang menampilkan rumah-rumah yang tak kalah mewah dengan rumahnya. Sekelebat demi sekelebat ingatan masa silam masih menjadi sequence utama dalam ingatannya. Ketika ia dan Raka menikah, ketika novel Raka laris dan mereka berhasil membeli rumah di sudut Bogor yang sejuk, hingga kelahiran Aksara dan Anindita. Semua memori itu indah sekaligus perih saat ia tak sanggup lagi menahan susahnya hidup saat nama Raka mulai memudar sebagai penulis.

Perpisahan itu bukan tentang hilangnya cinta, melainkan tentang cinta yang sudah tak mampu lagi relevan. Zara ingat betul bagaimana raut wajah Raka berubah menjadi asing di tahun-tahun terakhir mereka. Pria itu tidak lagi menulis dengan binar mata, melainkan dengan urat leher yang tegang dan keputusasaan yang meluap. Raka tenggelam dalam frustrasinya sendiri, mengunci diri di ruang kerja yang pengap, sementara di meja makan, Zara harus memutar otak membagi selembar uang terakhir untuk makan malam Aksara dan Anindita. Saat itu Aksara masih kelas tiga SMP,  sementara Anindita baru menjalani tahun awalnya di SMP.

Zara tersiksa melihat Raka yang perlahan hancur karena kisah yang ia tulis ditolak mentah-mentah oleh industri. Ia harus menyaksikan pria yang dicintainya itu berubah menjadi bayang-bayang yang mudah tersinggung, yang matanya hanya menatap kosong ke arah layar komputer. Sementara Anindita terus-terusan mengeluh karena sepatunya yang jebol tak kunjung diganti. Di malam-malam tanpa suara itu, Zara sering menangis di balik pintu kamar mandi agar tak terdengar Aksara. Ia mencintai Raka, tapi ia lebih mencintai masa depan anak-anaknya.

"Kita nggak bisa hanya makan diksi dan metafora, Mas," ucapnya lirih dalam satu perdebatan terakhir yang sangat sunyi. Raka hanya diam, pundaknya merosot, dan keheningan itu justru lebih menyakitkan daripada sebuah teriakan. Meja makan dengan lampu  temaram itu menjadi saksi percakapan hening suami istri yang sedang menjalani tragedi.

Raka meletakkan rokoknya di asbak yang sudah penuh puntung. Batuk keringnya mulai sering terdengar, “Lantas kamu mau apa?” 

“Dalam situasi ini, harusnya aku ikut membantu. Semua ini terjadi karena aku juga dulu gak pandai memanage keuangan keluarga ini saat royalti kamu masih besar!” jelas Zara lirih.

“Jangan bertele-tele Zara, kamu mau apa?” Raka menegaskan.

Zara tertunduk, keputusan yang akan ia buat adalah satu-satunya jalan terakhir yang mungkin bisa menyelamatkan keluarga mereka. Meskipun kelak, yang terjadi adalah sebaliknya.

“Aku mau kerja lagi!” kalimat itu meluncur di hadapan Raka yang sudah memiliki firasat akan kalimat ini.

Raka batuk lagi, kini lebih panjang dari sebelumnya.

“Terus kalau kamu kerja, siapa yang ngurus rumah dan anak-anak? Lagipula kita udah tua, memangnya ada perusahaan yang mau nerima?”

“Kalau gini terus, kita bisa jatuh, Mas! Aku juga malu utang sama Nila terus buat memenuhi kebutuhan!” Zara mengambil napas sejenak, mengingat utangnya yang menumpuk pada Kakaknya, “Kebetulan kenalan Nila di Jakarta butuh PR Director!” Zara memberi tahu dengan tegas, tapi tidak dengan nada tinggi. Ia sangat menghormati Raka.

“Nanti aku bayar kalau dapat uang!”

“Dapat darimana, Mas? Sisa royalti dari buku-buku best seller kamu nggak nutup pengeluaran kita,  Honor dari artikel di koran nggak cukup, bahkan habis buat kamu beli rokok! Terus kamu juga udah jarang jadi pembicara. Ini saatnya aku ngebantu, Mas!”

Raka menatap istrinya dalam diam, sementara kata-kata Zara terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Ada rasa sesak yang menghimpit dada, sebuah penyesalan yang terlambat. Ia teringat siapa Zara dulu: seorang wanita karier tangguh di belantara Jakarta yang menyulap waktu antara meja kantor dan bangku kuliah S2. Zara adalah permata dari keluarga terpandang, Raka menikahinya ketika usianya  dua puluh empat dengan masa depan yang berkilau. Namun kini, di ambang senja usia mereka, Raka tersadar bahwa ia hanya membawa wanita itu meniti jalan terjal kemiskinan, jauh dari kemewahan yang seharusnya menjadi haknya.

Lihat selengkapnya