Dunia panggung adalah tempat di mana kebohongan dipoles hingga berkilau. Anindita Sukma tahu itu. Sebagai Anin, ia kini mengambil peran impiannya. Menjadi seorang penyanyi. Apalagi setelah duetnya dengan Ricardo Naseer meledak di sosial media. Ricardo, sang peraih Penyanyi Solo Pria Terbaik di AMI yang suara melankolisnya sanggup menggetarkan baris paling belakang gedung konser, memberikan legitimasi Anindita sebagai penyanyi baru dengan modal yang tak bisa dibeli sekadar dengan bakat: Yaitu kekuasaan Sang Ayah Tiri.
Legitimasi itu tidak datang dari langit. Ia dipahat oleh jemari dingin Prianto Kusumo, ayah tirinya. Prianto bukan sekadar pengusaha properti dan Komisaris di Badan Usaha Plat Merah; ia adalah kurator nasib yang tahu persis bahwa di industri ini, kualitas adalah nomor dua setelah akses. Dalam sebuah jamuan makan malam tertutup yang aromanya dipenuhi cerutu mahal dan aroma single malt, Prianto duduk berseberangan dengan Ricardo Naseer. Di sana, terdapat juga Anindita, Brian Sang Produser Anindita, dan Poppy, manajer Ricardo.
Dalam makan malam itu. Prianto melemparkan kartu asnya. Ia bukan meminta bantuan, ia menawarkan kerja sama yang mustahil ditolak. Ia menjamin pendanaan tur nasional Ricardo berikutnya, memastikan setiap panggung yang dipijak sang divo memiliki teknologi audio visual terbaik yang bisa dibeli uang. Maka, terciptalah kolaborasi itu. Ricardo, yang biasanya sangat pemilih dan sakral dalam menjaga citranya, mendadak setuju untuk berbagi mikrofon dengan seorang pendatang baru. Bahkan Ricardo rela menjadi penyanyi pelapis dalam single pertama Anindita.
Bagi dunia, duet itu adalah keajaiban musikal; sebuah pertemuan organik antara bintang utama dan bakat muda yang "ditemukan" secara kebetulan. Namun bagi Anindita, setiap nada yang ia nyanyikan bersama Ricardo adalah pengingat yang pahit: bahwa ia sedang menumpang di atas kereta kencana yang jalannya telah diratakan oleh uang ayah tirinya. Ia memiliki suara, ia memiliki rasa, tapi ia juga sadar bahwa tanpa tanda tangan Prianto di atas kontrak kerja sama Ricardo, suaranya mungkin hanya akan berakhir menjadi gema di kamar mandi rumah lamanya di Bogor.
Akan tetapi, dibalik riuh tepuk tangan dan cahaya lampu spotlight, Anindita tetaplah seorang adik yang dihantui rasa bersalah. Ia tidak bisa menyentuh kakaknya secara langsung, setiap kali ia mencoba, ia hanya menemui tembok es yang dibangun Aksara. Termasuk ketika mereka memakamkan papanya. Bahkan untuk memeluk kakaknya saja, Anindita tak sanggup. Aksara terlampau menjadi diksi yang sulit Anindita pahami maknanya.
*
Aksara turun dari ojek sambil memastikan tempat yang ia tuju di kartu nama. Kartu nama Aras. Langit Jakarta mulai mengerang; gemuruh guntur terdengar seperti peringatan yang tak digubris. Ia berlari kecil menembus rintik gerimis menuju sebuah lobi dengan fasad industrial yang dingin tapi berwibawa. Di dinding beton ekspos itu, huruf-huruf logam membentuk nama yang tampak bersinar di bawah lampu sorot: The Silver Lining.
Inilah pelabuhan sementara yang ia pilih. Kemarin, dengan sisa-sisa harga diri yang nyaris tandas, ia menghubungi Aras. Kebutuhan untuk menyambung hidup dan memperbaiki rumah ternyata lebih bising daripada ego yang berteriak di kepalanya. Beruntung, Aras menyambutnya dengan tangan terbuka, sebuah keramahan yang bagi Aksara terasa sedikit ganjil, tapi terlalu mewah untuk ditolak.
Seorang resepsionis dengan langkah yang senyap mengantar Aksara menuju jantung kantor itu. Setelah dua ketukan yang mantap, suara Aras menyahut dari balik pintu kayu berat, mempersilahkannya masuk. Sosok Aras tampak santai di balik meja kerjanya, menyunggingkan senyum yang sulit dibaca. Setengah menyambut, setengah mengamati.
Aksara melangkah masuk, membiarkan matanya mencuri pandang pada tata ruang yang jauh dari kesan kaku. Ruang kerja Aras adalah sebuah galeri tentang keteraturan yang artistik. Cahaya lampu gantung yang temaram membasuh dinding bata merah dan pipa-pipa hitam yang dibiarkan telanjang di langit-langit. Di satu sudut, terdapat rak tinggi berisi piringan hitam dan buku-buku referensi seni yang tebal, sementara di sisi lain, sebuah jendela kaca raksasa menampilkan wajah Jakarta yang buram oleh hujan. Beda jauh dengan bekas kantornya dulu, sebuah bilik sempit yang berbau kertas tua dan keputusasaan. Di sini, udara terasa mahal, beraroma kopi arabika dan ambisi yang terorganisir.
“Apa kabar, Aksara?” sapa Aras ramah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang empuk, menatap tamunya dengan binar mata yang bersahabat.
“Baik, Om. Tapi kalau boleh... panggil aja saya Ara. Itu panggilan saya dari dulu,” ujar Aksara, masih dengan punggung yang tegak dan nada bicara yang sungkan.
Aras menaikkan sebelah alisnya, pura-pura tidak mendengar. “Apa? Aras?”
“Ara, Om Aras. Memang mirip, tapi Om ada huruf ‘S’-nya, saya nggak,” Aksara mencoba memperjelas, meski ia sadar betul bahwa pria di depannya ini sedang sengaja memancingnya.
Aras tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan terdengar tulus. “Wah, kalau begitu kita ini satu frekuensi, hanya beda nasib di satu huruf aja, ya?”
Lalu, Aras memajukan tubuhnya, menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan raut wajah yang dibuat-buat memelas. “Tapi tolong, jangan panggil ‘Om’ terus,dong. Saya tahu usia saya memang udah pantas dipanggil gitu, tapi perasaan saya... eh, maksud saya, secara look-kan, saya harusnya nggak dipanggil Om? Panggil Aras aja. Atau Mas kalau kau memang masih mau sedikit sopan. Gimana? agree?”