Aku Siap Patah Hati Lagi

Galih Aditya
Chapter #4

Aroma Sedap Malam yang Membawa Luka

Aksara tidak pernah menyangka pertemuannya dengan Aras saat itu bisa membawanya sejauh ini, bahkan mungkin se-kebetulan ini. Aras mengatakan bahwa ini takdir, tapi apakah takdir harus selinier ini sehingga Aksara menjadi bagian dari orang-orang yang ada di balik panggung megah Anindita? Semuanya terasa janggal, tapi hidup membuat Aksara tak memiliki banyak pilihan. Ia yang melarikan diri dari bayang-bayang Anindita, justru kini terjebak menjadi salah satu sekrup kecil yang memutar mesin panggung megah adiknya.

Seminggu sudah Aksara menjadi bagian dari roda penggerak di Silver Lining. Persiapan peluncuran single terbaru Anin merangkak naik menuju puncaknya. Tita, manajer produksi yang dikenal perfeksionis, menghela napas panjang sambil menatap maket digital di layar besar.

"Gue masih belum sreg," ujar Tita dingin. "Konsep panggung ini terlalu kaku, terlalu teknis. Mas Aras bilang Anin itu mahal tapi rapuh. Kita butuh elemen yang bisa menyatukan kemegahan Ricardo Naseer dengan sisi personal Anin. Ada ide lain nggak?"

Aksara, yang duduk di pojok barisan, tanpa sadar meremas ujung kemejanya. Ia tahu persis apa yang bisa membuat adiknya merasa hidup di atas panggung tanpa harus terlihat murahan. Ia pun memberanikan diri angkat bicara.

"Mbak Tita, bagaimana kalau kita bermain dengan konsep Victorian-Chic yang sedikit surealis?" suara Aksara menarik perhatian seluruh ruangan. "Anin punya sisi feminim yang klasik. Alih-alih panggung kosong dengan lampu sorot tajam, kita bisa gunakan lantai panggung dengan efek glossy hitam seperti air tenang."

Aksara berdiri, mendekat ke layar dan menunjuk sudut-sudut kosong. "Lalu, jangan gunakan furniture panggung biasa. Kita letakkan satu grand piano transparan, dan di sekelilingnya kita tebar kelopak bunga sedap malam putih. Sedap malam punya kesan anggun yang sangat cocok dengan karakter vokal Anin."

Ia mengambil napas sejenak, ingatannya melayang pada kebiasaan adiknya yang suka mengoleksi barang-barang lama peninggalan nenek mereka. "Dan sebagai pemanis, kita tambahkan beberapa standing mirror dengan bingkai ukiran emas yang diletakkan secara acak. Cermin-cermin itu nggak hanya estetik, tapi akan memantulkan cahaya lampu secara lembut ke arah penonton, menciptakan efek distorsi  waktu dia nyanyi bagian-bagian paling emosional."

Tita terdiam, matanya mulai berbinar menatap maket itu kembali sambil membayangkan ide Aksara.

"Cermin dan sedap malam..." gumam Tita. "Itu elegan, tapi terasa sangat personal. It’s like a fragile queen in her own palace."

Tita lantas memutar kursi sepenuhnya menghadap Aksara. Ada kerutan di dahi manajer produksi itu. Sebagai orang yang sudah bertahun-tahun menangani artis papan atas, ia tahu bahwa ide sedetail itu biasanya tidak muncul hanya dari hasil riset semalam di Pinterest.

"Tapi tunggu dulu, Ra," potong Tita, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. "Konsep ini terlalu spesifik. Detail sedap malam dan cermin antik itu bukan sekadar estetik. Itu terasa... deeply connected sama Anin. Padahal kita bahkan belum kasih lo akses ke folder personal preferences-nya dia. Lo dapet ide ini darimana? Atau jangan-jangan lo secretly salah satu fans beratnya?"

Pertanyaan Tita membuat suasana ruangan mendadak terasa lebih sempit bagi Aksara. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan keras. Ia tak mungkin bilang kalau ia tahu Anindita sering menangis sambil menatap cermin di kamar mereka dulu, atau betapa adiknya itu selalu memetik sedap malam di kebun samping  rumah hanya untuk diletakkan di nakas dekat tempat tidur.

Aksara berdehem, mencoba mencari celah untuk berbohong dengan elegan.

"Saya... saya cuma memperhatikan video-video lamanya di sosmed, Mbak Tita," jawab Aksara, suaranya sedikit bergetar tapi tetap ia usahakan tenang. "Di beberapa unggahan medsosnya yang dulu, dia sering terlihat di ruangan dengan pencahayaan hangat dan barang-barang kuno. Saya pikir, dia pasti merasa lebih nyaman di lingkungan seperti itu daripada di panggung yang terlalu futuristik."

Tita masih menatap Aksara, ia tampak belum sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tapi ia memilih untuk tidak mendesak lebih jauh. "Oke, fair enough. Kalau riset lo sedalam itu, gue nggak akan komplain. Tapi ingat, Ra, semakin personal sebuah konsep, semakin tinggi resiko kegagalannya. Kita harus pastikan semua cermin itu aman dan aroma bunganya nggak mengganggu pernapasan Anin di panggung."

"Saya akan pastikan itu, Mbak," ucap Aksara pelan.

“Oke, Timo, habis ini coba lo buat model panggungnya, ya, mau gue lempar ke Mas Aras dulu sebelum nanti kita ketemu Anin!” pinta Tita pada 3D artist-nya. “Oh, iya, Ra, setelah Mas Aras acc, lo ikut gue ketemu Anin, ya!”

Mendengar ucapan Tita, jantung Aksara berdegup kencang. Ia tahu pasti cepat atau lambat akan bertemu Anin setelah pertemuan terakhir mereka di pemakaman papanya, tapi ia tak menyangka harus secepat ini.

"Ikut... ketemu Anin, Mbak?" tanya Aksara, mencoba memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang mengkhianatinya.

Tita yang sedang merapikan kabel laptopnya mendongak sekilas. "Iyalah. Ide cermin dan sedap malam itu datang dari lo. Kalau nanti dia atau manajemennya tanya soal filosofi atau detail teknisnya, lo yang paling tahu jawabannya. Lagipula, Mas Aras mau tim produksi mulai bonding sama artisnya sejak awal. Personal touch itu penting, Ra."

Aksara terpaku. Ia bingung bagaimana harus bersikap, ia tidak mungkin menolak permintaan langsung atasannya tersebut.

"Kenapa, Ra? Muka lo kok mendadak pucat begitu? Stage fright padahal belum naik panggung?" canda Timo, sambil menyenggol bahu Aksara.

Aksara memaksakan sebuah senyum yang lebih mirip ringisan. "Enggak, cuma... agak kaget aja. Saya belum pernah berhadapan langsung dengan artis besar."

"Anin itu masih artis pendatang baru, kalau ketemu Raisa atau Rossa baru deh lo waswas.  Tapi Anin ini orangnya perfeksionis,dia punya radar yang kuat buat hal-hal tulus," Tita menimpali sambil berjalan menuju pintu. "Kalau dia suka ide lo, kerjaan kita bakal jauh lebih gampang. Jadi, siapkan diri lo. Paling cepat dua hari lagi di kafe biasa tempat dia meeting."

Setelah ruangan itu kosong, Aksara masih terduduk di kursinya. Pandangannya kosong menatap layar proyektor yang kini hanya menampilkan warna putih hampa. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Ironi ini sungguh menyesakkan. Aksara melirik tumpukan kartu nama Aras yang tergeletak di meja meeting. Ia sadar, takdir yang disebut Aras bukan lagi sekadar kebetulan yang manis, melainkan sebuah labirin rumit yang sengaja dirancang untuk membawanya pulang pada kenangan yang paling ingin ia maki.

Lihat selengkapnya