Aku Siap Patah Hati Lagi

Galih Aditya
Chapter #5

Pertemuan Dua Keping Hati

Malam sebelum pertemuan itu, Aksara duduk di tepi tempat tidurnya. Layar ponselnya berpijar redup, menampilkan ruang obrolan dengan kontak yang namanya tidak akan pernah bisa ia lupakan, Anindita. Jarinya sempat ragu, tapi kebutuhan untuk menetapkan batasan jauh lebih besar daripada rasa takutnya.

"Besok jam sepuluh di Dharmawangsa. Aku datang sebagai staf Silver Lining untuk presentasi konsep. Jangan panggil aku Kakak. Jangan tunjukkan kalau kita saling kenal. Di meja itu, aku hanya Aksara dari Tim Produksi, dan kamu adalah Anin. Tolong profesional."

Pesan itu terkirim. Aksara langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu balasan. Ia tidak butuh jawaban, ia hanya butuh kepatuhan. Aksara menarik napas panjang, menatap bayangan dirinya pada cermin lama peninggalan neneknya, cermin favorit Anin. Cermin itu seolah menjadi layar bioskop masa lalu, memutar fragmen masa silam.

Sebuah stasiun TV saat itu terasa seperti hutan beton yang mengintimidasi. Aksara, yang baru pulang sekolah, ia langsung menemani Anindita yang mengikuti kontes audisi menyanyi remaja tingkat nasional. Ia melihat Anindita berdiri dengan tangan gemetar memegang nomor urut 0412. 

“Kamu kenapa?”

"Kak, pulang aja yuk? Anin takut. Suara mereka bagus-bagus banget," bisik Anindita, matanya menatap kerumunan kontestan lain yang tampil dengan kostum berkilau dan riasan tebal.

Aksara menunduk, menatap adiknya. Ia mengeluarkan botol minum dari tas ranselnya yang sudah mulai pudar warnanya. "Minum dulu. Ingat, semalam papa  bilang apa? Suara kamu itu titipan. Titipan itu harus disampaikan, bukan disimpan di kantong karena takut!"

Aksara lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan setangkai sedap malam yang sudah dibungkus dengan tisu basah agar tetap segar. Ia memetik satu kuncupnya, lalu menyelipkannya di belakang telinga Anin.

"Wangi ini biar kamu ingat rumah. Biar kamu ingat kalau ada Kakak, dan doa Papa dan Mama di sini. Kamu nggak butuh baju kelap-kelip itu buat jadi bintang, Nin," ujar Aksara sambil merapikan rambut adiknya yang sedikit berantakan.

Saat nama Anindita Sukma dipanggil melalui pengeras suara, Aksara merasakan jantungnya ikut mencelos. Ia hanya bisa mengantar Anin sampai depan pintu studio yang kedap suara. Lewat TV LCD yang terpasang di atas koridor,  Aksara melihat adiknya berdiri kecil di tengah ruangan yang luas, di depan tiga juri yang tampak bosan. Acara ini disiarkan secara taping untuk ditayangkan jumat malam.

Anindita sempat menoleh ke arah pintu. Berharap ada kakaknya di situ, tapi pintu langsung tertutup sejak ia pertama kali melangkahkan kaki masuk. Dengan gugup Anindita memperkenalkan diri pada juri. Basa-basi singkat,  Anindita mulai menyanyi. Tanpa musik pengiring, hanya suara beningnya yang memecah keheningan. Aksara  menyadari adiknya mulai percaya diri saat menyanyi, apalagi ketika ekspresi para juri berubah. Dari yang semula menyandar bosan, menjadi tegak dan terpaku. Aksara tersenyum bangga, adiknya pasti lolos.

Setelah audisi selesai dan Anindita keluar dengan mata berbinar membawa tiket lolos, ia langsung menghambur ke pelukan Aksara. Mereka berpelukan di koridor stasiun TV yang dingin, tidak peduli dengan orang-orang yang lewat.

"Kak, Anin lolos! " tangis Anindita pecah di dada kakaknya.

Aksara hanya bisa mengangguk, mendekap adiknya erat-erat. "Iya, Nin. Kamu hebat. Kakak bangga banget sama kamu."

Dulu, ia adalah orang pertama yang percaya pada suara Anindita. Ia adalah orang yang menemaninya mengantri sampai mendapat nomor urut dan masuk ke tahap penjurian. Anindita bahkan melewati bertahap lapis penjurian sebelum bertemu juri utama, meskipun hanya ketika menghadapi juri utama sajalah yang tayang di televisi dan menjadi tontonan hangat keluarga di jumat malam.

Perjalanan Anindita di konten menyanyi itu cukup jauh, tapi ia gagal memasuki babak utama. Ia tidak terpilih menjadi 12 finalis. Meski begitu, seluruh keluarga tetap bangga padanya. Anindita kecewa, tapi perlahan memudar karena dukungan dari seluruh keluarga. Begitu hangat keluarga itu saat bom waktu yang meluluh lantahkan kebahagiaan itu belum meledak.

*

Aksara baru membaca pesan balasan dari Anin dalam perjalanan ke kafe di Dharmawangsa. Dari balasan pesan Anin, ia tampak terkejut ketika mengetahui Aksara bekerja di Silver Lining;

“Maksudnya?”

“Kak, kok, checklist? Ini maksudnya kakak sekarang kerja di Silver Lining? Kakak yang handle launching aku?

“Masih ada check list, kak! 

“Kak Ara, kalau itu mau kakak, aku terima!

Tapi setelah meeting, aku mau bicara berdua sama Kak Ara!”

Aksara sama sekali tidak menggubris pesan dari Anindita, ia lebih fokus mempelajari brief konsep yang sudah dimatangkan oleh Tita dan Aras di atas KRL. Untung saja ia berangkat dari stasiun pertama di Bogor, jadi ia masih bisa mendapat tempat duduk meskipun kereta makin sesak saat melewati stasiun demi stasiun menuju Manggarai.

Setibanya di stasiun Sudirman, Aksara segera berpindah ke moda transportasi lain untuk mencapai Dharmawangsa. Selama perjalanan, ia sengaja mematikan notifikasi ponselnya. Ia tak ingin sisa-sisa emosi dari pesan Anin merusak benteng profesionalisme yang sudah ia bangun susah payah sejak dari Bogor.

Kafe di Dharmawangsa itu memiliki arsitektur klasik yang elegan, dengan jendela-jendela besar yang memperlihatkan taman asri di tengah kota. Tempat yang sangat merepresentasikan citra mahal Anindita sekarang. Tita dan Timo sudah menunggu di sebuah meja panjang di sudut yang lebih privat.

"Ra, lo udah siap kan? Mas Aras nggak bisa ikut karena ada meeting sama vendor utama, jadi lo yang harus kuasai panggung hari ini," ujar Tita sambil menyesap kopinya.

Lihat selengkapnya