Aroma kayu potong dan uap cat yang tajam memenuhi udara Balai Sarbini, menciptakan atmosfer sibuk yang menyesakkan. Aksara berdiri mematung di tengah panggung yang masih berupa kerangka, jemarinya mencengkram erat gulungan cetakan biru desain interior. Di bawah sorot lampu worklight yang kuning temaram, bingkai-bingkai cermin emas mulai terpasang, memantulkan bayangan para pekerja yang bergerak gesit bak siluet. Namun, meski raganya ada di sana, pikiran Aksara masih tersangkut pada getaran suara Anin di balkon Dharmawangsa kemarin, sebuah luka yang belum sempat ia obati.
"Ara, istirahat dulu. Biar anak-anak vendor yang lanjut pasang rigging," teriak Timo dari kejauhan barisan kursi penonton, suaranya menggema di ruangan yang luas itu.
Aksara mengangguk lemah. Kepalanya terasa seberat batu, penuh dengan kalkulasi teknis dan sisa-sisa amarah. Ia butuh oksigen dan kafein yang tidak bercampur dengan partikel debu konstruksi. Dengan langkah gontai, ia melipir menuju Lippo Mall Nusantara yang terhubung langsung dengan gedung tersebut.
Di sebuah sudut coffee shop yang tenang, Aksara duduk menyendiri, menatap kosong pada bulir-bulir embun yang merayap di gelas kopi dinginnya. Pikirannya baru saja akan melayang jauh ketika sebuah suara bariton seorang pria memecah lamunannya.
"Aksara? Ini Aksara, kan?"
Aksara mendongak, mengerutkan kening demi mengenali wajah di depannya. Seorang pria berkacamata bulat dengan kemeja flanel oversize berdiri di sana. Wajah itu terasa akrab, tapi memori Aksara yang kelelahan gagal memanggil namanya dari tumpukan kenangan masa lalu.
"Maaf... siapa ya?" tanya Aksara ragu.
Pria itu tersenyum tipis, lalu menarik kursi tanpa menunggu undangan. "Wajar kalau kamu lupa. Terakhir kita bertemu di pemakaman papamu. Saya Manaf, editor dari penerbitan yang handle naskah-naskah papamu!”
Aksara tersentak. Ingatannya seketika terseret kembali ke ruang kerja papanya yang pengap di Bogor; ruang di mana aroma kertas tua dan asap rokok bersatu, tempat pria ini sering duduk hingga larut malam. "Mas Manaf. Maaf, pikiran saya lagi berhamburan ke mana-mana."
"Nggak apa-apa, Ra. Kamu ngapain di sini?" tanya Manaf ramah.
"Aku kerja jadi event planner, Mas. Kebetulan ada event di Balai Sarbini."
"Event di Balai Sarbini? Oh, acara Anin, ya?" Mata Manaf berbinar, sama sekali tak menyadari jurang yang ada di antara kedua kakak-beradik itu. "Wah, hebat kalian masih kompak! Jadi Anin bintangnya, dan kamu yang menyusun panggungnya?"
Aksara hanya mampu menyunggingkan senyum kelu. Pertanyaan Manaf terasa seperti sembilu yang mengiris luka lama. "Begitulah, Mas. By the way, Mas Manaf ada acara apa di sini?" Aksara segera membelokkan pembicaraan, tak ingin berlama-lama di topik yang menyesakkan itu.
"Habis ketemu penulis. Ya, beginilah nasib editor, harus jemput bola."
"Penulis yang nggak sekeras kepala Papa, kan, Mas?" seloroh Aksara pahit. Ia ingat betul bagaimana papanya bisa bertahan berjam-jam mempertahankan satu kata dalam kalimatnya.
Manaf terkekeh, tapi seketika wajahnya berubah serius. Ia membenarkan letak kacamatanya dengan gerakan yang kaku. "Kebetulan sekali ketemu di sini, Ra. Sebenarnya saya sudah beberapa kali mau hubungi kamu, tapi saya nggak punya kontak kamu. Mau hubungi Anin, wah, dia udah jadi rising star, kayaknya sulit menembus asistennya."
"Ada apa, Mas? Soal royalti buku Papa?" Aksara mencoba melempar canda.
"Bukan. Ini soal naskah terakhir yang papamu kirim lewat e-mail sebulan sebelum meninggal. Judulnya Rumah Untuk Pulang." Manaf menjeda kalimatnya, menatap Aksara dengan sorot mata yang dalam. "Naskah itu punya potensi besar untuk terbit, Ra. Gaya bahasanya... sangat jujur. Seolah papamu sedang tidak menulis fiksi, melainkan menumpahkan seluruh isi hatinya. Dalam sedekade terakhir, baru itu naskah papamu tanpa ngangkat isu politik yang nyerempet jurang!"
Jantung Aksara seolah berhenti berdetak sesaat. "Papa nggak pernah cerita soal itu."
"Karena memang belum selesai," lanjut Manaf parau. "Ceritanya tentang dua saudara perempuan yang terpisah karena badai keluarga. Mereka menempuh jalan yang berbeda; yang satu memilih kesunyian yang dingin, yang satu mengejar gemerlap cahaya yang menyilaukan. Sampai akhirnya, mereka mencoba menemukan jalan pulang masing-masing. Masalahnya, papamu baru mengirimkan tiga perempat bagian. Mungkin sisanya masih di komputer lamanya di rumah?"
Aksara terdiam seribu bahasa. Dua saudara perempuan. Papanya tidak sedang merangkai imajinasi; ia sedang merajut doa terakhirnya untuk kedua putrinya yang hancur.
"Naskah itu... apa tentang aku dan Anin, Mas?" bisik Aksara, suaranya nyaris hilang ditelan bising mal.
"Papamu nggak pernah mengakuinya sebagai biografi, tapi sebagai editornya selama belasan tahun, saya tahu kapan dia sedang bicara jujur lewat diksi," Manaf merogoh tasnya, memberikan sebuah kartu nama. "Bahan naskahnya, catatan-catatan pinggirnya, semua ada di komputernya itu. Kalau kamu bisa mengambilnya dan syukur-syukur kamu atau Anin bisa menyelesaikannya, tolong kirim ke saya. Kita jadikan naskah ini sebagai persembahan terakhir untuk papamu. Saya rasa dunia perlu tahu bagaimana akhir cerita itu."
Manaf pamit tak lama kemudian, meninggalkan Aksara yang terpaku menatap kartu nama di tangannya. Aksara menyadari sesuatu yang menyakitkan: di saat ia berusaha keras membangun panggung profesional yang dingin dan menjaga jarak dengan Anin, roh papanya justru sudah menyiapkan panggung lain di sebuah komputer lama yang berdebu. Panggung yang menceritakan tentang kepulangan yang mungkin tak akan pernah terjadi.
Ponsel di saku celananya bergetar kuat. Sebuah pesan dari Tita muncul di layar: "Ra, kembali ke lokasi. Vendor bunga sedap malam sudah sampai. Gue mau lo yang cek kualitasnya langsung."
Aksara menatap pesan itu dengan pandangan yang kian buram. Aras, panggung megah untuk Anin, dan kini naskah titipan Papa. Segalanya mulai berpilin menjadi satu tali yang mencekik lehernya, menariknya kembali ke pusat badai yang selama ini coba ia hindari.
*
Aksara tiba di rumah tuanya saat jarum jam telah melewati angka dua belas. Persiapan peluncuran single Anindita benar-benar telah mengikis habis sisa energi dan logikanya. Tita sempat memaksanya untuk menginap di hotel dekat lokasi agar lebih mudah mengikuti sesi rehearsal esok pagi, tetapi Aksara menolaknya dengan halus. Ia berdalih ada urusan keluarga yang mendesak, meski sebenarnya jiwanya hanya butuh pulang. Dengan kereta terakhir yang sunyi, ia melaju meninggalkan hingar-bingar Jakarta menuju keheningan Bogor yang basah.
Langkah kakinya menggema di lantai saat ia memasuki ruang kerja papanya. Hal pertama yang ia lakukan adalah menyibak jendela lebar-lebar, membiarkan aroma sedap malam dari kebun merangsek masuk, mengusir bau pengap yang telah lama terperangkap di sana. Ia menyalakan komputer yang menderu pelan, lalu jemarinya mulai menari di atas papan ketik, mencari judul naskah yang disebutkan Manaf. Di bawah kolom pencarian, sebuah folder muncul.
Aksara membukanya dengan napas tertahan. Ada dua file di sana. Satu berjudul “Rumah Untuk Pulang”, dan satu lagi, sebuah file yang membuat dahi Aksara berkerut dan jantungnya berdegup tak beraturan berjudul: “Untuk Ara dan Anin”.
Dengan tangan gemetar, Aksara meng-klik file tersebut. Barisan kalimat mulai memenuhi layar monitor yang berpendar pucat di kegelapan ruang.