Aku Yang Paling Terakhir Tertawa

Affry Johan
Chapter #1

Kantor Baru

Di tengah hiruk-pikuk kota besar yang tak pernah benar-benar tidur dalam dua puluh empat jam, selalu ada sosok-sosok yang memilih berjalan di belakang barisan. Mereka tidak pernah mengejar sorotan, tidak pula berlomba untuk menjadi pusat perhatian. Lebih sering, perhatian dunia jatuh kepada mereka yang paling lantang bersuara, yakni para ekstrovert yang dengan mudah dikenali dengan kharismanya. Namun, di sisi lain, ada pula segelintir orang yang justru mengambil jalan sebaliknya. Mereka, para introvert yang hampir tidak pernah memiliki tempat di tengah masyarakat. Dalam keheningan, keberadaan mereka kerap terlewat oleh mata yang terlalu sibuk melihat keramaian.

Di antara sosok-sosok para introvert itu, Ricky adalah salah satunya. Seorang pria yang lebih sering tenggelam di antara hingar bingar keramaian. Di balik diamnya, ia tetap menyimpan pesan kecil tentang arti kehidupan.

Ricky selalu menjadi pria pendiam yang tak pernah mengeraskan suaranya lebih dari yang diperlukan. Hidupnya sederhana, berjalan tanpa ambisi besar ataupun keinginan untuk FOMO. Ada bagian dari dirinya yang memang nyaman jauh dari keramaian, seolah dunia lebih mudah dijalani ketika ia menjadi penonton daripada menjadi sang aktor pemeran utama.

Kebiasaan itu membuatnya hampir tak pernah menonjol di manapun. Ia hanyalah salah satu wajah di antara ratusan kerumunan tanpa nama.

Namun, kisah Ricky ini setidaknya membuktikan, tidak selamanya introvert selalu berada di posisi yang dirugikan.

Hari ini adalah hari pertamanya di kantor barunya. Ricky datang lebih awal. Dengan langkah hati-hati, ia membuka pintu utama kantor barunya dan berjalan menghampiri meja resepsionis.

Seorang wanita muda di balik meja mengangkat kepala, lalu menyapanya lebih dulu.

“Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah.

“Selamat pagi,” Ricky menjawab pelan. “Saya Ricky ... karyawan baru. Diminta melapor ke bagian HR.”

Resepsionis itu tersenyum, lalu menekan tombol telepon di sampingnya. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dengan wajah bersahabat muncul menghampiri.

“Selamat pagi, Mas Ricky, ya?” sapanya sambil mengulurkan tangan. “Saya Eka, dari bagian HR. Mari, saya antar berkeliling kantor dulu supaya lebih mengenal suasana di sini!”

Ricky menjabat tangannya. “Selamat pagi, Bu Eka. Terima kasih banyak!”

“Anggap saja ini rumah kedua. Yuk kita masuk!” balas Ibu Eka dengan tersenyum lebar.

Dengan langkah pelan, Ricky mengikuti Ibu Eka menyusuri lorong. Dalam diam, ia memperhatikan setiap sudut bangunan baru itu, mencoba membiasakan diri dengan tempat yang akan menjadi rutinitas barunya.

Ibu Eka berjalan di depan dengan langkah mantap, sementara Ricky mengikuti satu langkah di belakang. Mereka melewati karyawan-karyawan yang sibuk mengetik, suara mesin printer yang bergantian berdengung, dan tumpukan berkas berserakan di beberapa sudut.

“Ini divisi administrasi,” kata Ibu Eka sambil menunjuk ke ruangan terbuka yang luas. “Di sini, pusat semua dokumen perusahaan dikelola. Kalau nanti ada kebutuhan form atau arsip, biasanya mereka yang mengurus.”

Ricky mengangguk pelan, menatap meja-meja penuh kertas. “Baik, Bu!” Suaranya nyaris tenggelam oleh dering telepon di dekatnya.

Mereka lalu berbelok ke ruang berikutnya, di mana sejumlah karyawan sedang berdiskusi dengan nada agak tinggi. “Kalau yang ini divisi keuangan,” jelas Ibu Eka. “Jangan kaget kalau sering lihat mereka sibuk dan sedikit tegang. Maklum, urusan angka memang begitu!”

Lihat selengkapnya