Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Atau setidaknya terlihat biasa saja bagi siapa pun yang tidak memperhatikan dari dekat. Namun bagi Ricky, ada sesuatu yang berubah. Ia mulai menyadari satu kebiasaan kecil yang tak pernah ia miliki sebelumnya: menunggu.
Menunggu langkah kaki Laras yang melintas di antara meja kerja dengan ceria. Menunggu suaranya yang entah kenapa bisa ia kenali di antara puluhan suara lain.
Dan setiap kali ia melintas, Ricky selalu melakukan hal yang sama, mencuri pandang ke arahnya.
Tidak lama. Hanya sekilas.
Cukup untuk memastikan bahwa mereka berada di dalam ruangan yang sama hari itu.
Dan baginya, itu sudah cukup menjadi mood booster-nya pada hari itu.
Kadang Laras berjalan menunduk, menatap layar ponsel dengan jari-jari yang menari lincah di atas layar sentuhnya. Kadang ia tertawa kecil bersama teman-temannya. Suaranya lembut, dengan tawa kecil yang entah kenapa terlihat tulus, tidak dibuat-buat, dan bukan pula tertawa karir.
Ricky tidak pernah benar-benar mendekatinya. Ia hanya mengamati dari jarak yang tidak jauh, namun juga tidak cukup dekat. Jarak yang tidak mengharuskannya bicara padanya. Jarak yang tidak membuatnya akan terlihat dari pandangan mata Laras.
“Lo lagi ngeliatin siapa sih, Bro?” tanya Dimas yang duduk di sebelah Ricky.
Sontak, Ricky langsung mengalihkan kembali pandangan ke layar komputernya. “Nggak ngeliatin siapa-siapa, kok.”
“Barusan gue liat kepala lo nengok ke arah sana terus,” balas Dimas.
“Refleks aja,” jawab Ricky cepat.
“Refleks apaan, tiap hari kan lo nengok ke orang yang sama terus,” jawab Dimas sambil terkekeh kecil. “Laras, kan?”
Ricky terdiam sebentar, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Udah ah, nggak penting!”
Dimas terkekeh lagi lalu kembali fokus menatap layar komputernya, seolah ia sudah mengerti apa arti respons Ricky itu.
Dan memang, terkadang tidak semua hal perlu dijelaskan dengan kata-kata. Cukup bahasa tubuh yang menjelaskan semuanya.
Waktu istirahat pun tiba. Entah kenapa, istirahat makan siang hari itu terasa sedikit lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena beberapa karyawan sedang berdinas di luar kantor atau mungkin juga karena memang mereka lebih memilih makan siang yang jauh dari kantor.
Dan kini, sesuatu yang tak pernah Ricky bayangkan benar-benar terjadi.
Siang itu, Ricky sedang duduk sendiri di kantin dengan nampan makan siang yang belum disentuh sama sekali. Pikirannya entah ke mana, seperti biasa.
Lalu sebuah suara memanggilnya. “Ricky.”
Ia mendongak.
Laras telah berdiri di depan mejanya.
Untuk beberapa detik, Ricky hanya terdiam. Otaknya seperti butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk memproses kenyataan.
“Iya?” Akhirnya ia menjawab.
Laras lalu tersenyum kecil kepadanya. “Lagi sendirian, nih?”
Ricky mengangguk. “Iya.”
“Boleh gabung?” tanya Laras lagi.