Aku Yang Paling Terakhir Tertawa

Affry Johan
Chapter #3

Senyuman Untuk Yang Lain

Angka jam di pojok kanan bawah layar komputer Ricky terasa berganti lebih lambat dari biasanya.

Pukul 10.00.

Masih 2 jam lagi menuju istirahat makan siang. Namun Ricky sudah meliriknya berkali-kali sejak pagi ini. Angka demi angka berganti, tapi terasa begitu lama untuk sampai ke waktu yang ia tunggu: jam makan siang.

Bukan karena lapar, melainkan ada seseorang yang sebenarnya ia tunggu.

Laras.

Sejak makan siang kemarin, ada sesuatu yang muncul di dalam dirinya. Sebuah harapan baru yang diam-diam tumbuh. Harapan atas momen yang bahkan belum tentu akan terulang kembali. Makan siang berdua. Hanya dirinya ... dan Laras.

Tangannya tetap bergerak di atas keyboard, seolah-olah ia sedang sibuk. Tapi pikirannya berkali-kali melayang bukan ke pekerjaannya.

Hari ini … mungkin dia bakal ngajak lagi.

Atau setidaknya … duduk bareng lagi.

Ricky kembali melihat angka jam di pojok kanan bawah layar komputernya.

11.59.

Jam akhirnya menunjukkan waktu istirahat.

Belum sempat Ricky berdiri, matanya terbelalak. Di depan matanya, ia menyaksikan sesuatu yang membuat dadanya sesak terhimpit.

Laras ... dan ....

Miftah.

Seorang pria tinggi berpakaian rapi dari divisi IT. Dengan kedua tangannya dimasukkan ke saku, ia berjalan berdampingan dengan Laras. Hanya berdua.

Laras tampak menoleh ke arahnya, lalu tertawa kecil. Miftah menoleh, dan membalas dengan senyuman lebar.

Dekat ....

Mereka ... terlalu dekat.

Ricky terpaku.

Ada sesuatu yang muncul di dalam dadanya. Sebuah rasa yang panas dan menyesakkan, yang entah mengapa terasa hingga ke kepala. Namun ia tidak bergerak. Tidak mungkin juga ia tiba-tiba menghampiri dan menyela.

Ia tahu posisinya.

Gue ... hanyalah karyawan baru ... bukan siapa-siapa ....

“Woi, Rick!”

Suara di sampingnya membuatnya tersadar dari lamunannya.

Dimas, yang duduk tepat di sebelahnya, menatapnya sambil menggeser kursinya lebih dekat ke meja Ricky.

“Lu liatin apaan sih dari tadi?”

Ricky tidak langsung menjawab. Tatapannya masih terkunci ke arah pintu keluar, tempat Laras dan Miftah baru saja menghilang.

Dimas mengikuti arah pandang itu.

“Oh ... ” gumam Dimas pelan, seolah langsung mengerti apa yang dilihat Ricky..

Dimas kembali menyandarkan punggung di kursinya sendiri.

“Laras sama Miftah emang udah lama deket kali!” ujar Dimas singkat.

Sebuah kalimat singkat dan padat, tapi menghantam keras di dalam dada Ricky.

“Deket?” Ricky akhirnya menjawab dengan suara pelan.

“Iya. Tapi bukan pacaran, sih!” lanjut Dimas. “Cuma ya gitu … sering bareng. Apalagi Miftah anak IT. Tiap komputer Laras error, pasti dia yang dipanggil!”

Dimas terkekeh sebelum melanjutkan. “Emang dia pinter sih, bisa diandelin. Wajar aja kalau Laras ngerasa nyaman!”

Kata-kata itu terasa menghujam dada Ricky lebih dalam lagi dari sebelumnya.

Belum sempat Ricky mencerna semuanya, suara lain tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

Lihat selengkapnya