Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #2

Kandang yang Retak

Jam dinding di atas pintu menunjukkan pukul 09.15. Waktu di mana semangat pagi biasanya mulai menguap, digantikan oleh aroma kopi instan murah dan pembersih lantai aroma pinus yang menyengat dari arah pantry.

Aku mencoba fokus pada layar monitorku. Suara ketukan keyboard dari puluhan kubikel di sekitarku terdengar seperti rintik hujan di atap seng---monoton, ritmis, dan entah kenapa, membuat kantuk. Aku baru saja hendak mengetik baris pertama laporan evaluasi Latsar ketika mataku menangkap sesuatu yang ganjil.

Di bawah tepi keyboard-ku yang berdebu, tersembul ujung kertas yang berbeda teksturnya dengan dokumen kantor.

Itu kertas koran. Buram, kasar, dan sedikit menguning.

Aku menariknya perlahan. Bunyi gesekan kertas itu terdengar terlalu nyaring di telingaku, meski mungkin tidak ada yang mendengarnya. Itu potongan artikel kolom opini: "PNS vs AI, Siapa yang Akan Bertahan?"

Bukan artikelnya yang membuat napasku tertahan, tapi aroma samar yang menguar darinya. Bau tembakau maskulin yang tercampur dengan aroma kertas tua. Dan sebuah tulisan tangan di sudutnya. Tinta biru cair---bukan ballpoint standar jatah kantor---dengan tarikan huruf tegak bersambung yang menekan kuat ke serat kertas.

> "Ternyata ada yang 'keliarannya' melebihi idemu. Selamat pagi. -Z"

Aku menatap tinta itu. Masih mengilap basah di bagian ujung huruf 'Z'. Berarti baru saja diletakkan beberapa menit lalu.

Aku menoleh cepat ke kiri. Mbak Lastri masih menatap layar Excel dengan kacamata melorot, mulutnya komat-kamit menghitung angka. Di depan, Pak Joko sedang mengoleskan minyak angin ke lehernya, menyebarkan bau menthol yang tajam.

Tidak ada yang melihat. Tapi aku merasa tengkukku meremang, sensasi dingin yang tidak berasal dari AC sentral.

Jemariku meraba tekstur kasar kertas koran itu sekali lagi. Ada kepuasan aneh yang menjalari ujung jariku. Ini bukan pesan digital yang bisa di-screenshot atau diteruskan. Ini fisik. Nyata. Dan berbahaya.

Dengan gerakan terlatih---seolah aku sudah melakukan ini seumur hidup---aku melipat kertas itu menjadi kotak kecil. Aku tidak menyimpannya di laci. Aku menyelipkannya ke dalam saku rok hitamku, membiarkan sudut tajam kertas itu menekan pahaku melalui kain.

Baru saja aku menarik napas lega, sebuah bayangan jatuh di atas mejaku.

"Ciye... anak emas Pak Kabid."

Aku tersentak. Lututku membentur bawah meja. Dug.

Lihat selengkapnya