Ruang rapat Bappeda selalu memiliki suhu dua derajat lebih dingin dari ruangan lain. Atau mungkin itu hanya perasaanku saat melihat dua kutub kekuatan kantor sedang bertabrakan.
"Pusat Kebudayaan Sijuk bukan cuma gedung, Pak Pram," suara Zarimuddin bergema, memantul di dinding ruang rapat yang kaku. Ia menunjuk slide proyektor—sebuah rendering arsitektur megah dengan atap melengkung khas Melayu. "Ini monumen kebangkitan pasca-pandemi. Kita butuh simbol."
Pramono tidak repot-repot melihat layar. Kepala Bidang Infrastruktur itu sibuk membalik halaman dokumen anggaran, menciptakan bunyi krek-krek kertas yang mengganggu di tengah heningnya ruangan.
"Monumen butuh semen, Pak Zar," potong Pramono tanpa mendongak. Suaranya datar, tipe birokrat yang sudah mati rasa pada kata 'visi'. "Dan semen butuh duit. Anggaran kita defisit tiga miliar tahun ini. Baseline-nya mana? ROI-nya berapa? Jangan sampai kita bangun candi yang cuma dipakai jin buang anak."
Beberapa staf menahan napas. Kaban melirik jam dinding, terlihat ingin segera mengakhiri ini.
Wajah Zarimuddin mengeras. Rahangnya mengetat. Ia mulai mengetuk-ngetuk pena di meja mahoni itu.
Tap. Tap. Tap.
Tanda bahaya. Aku sudah menghafal ritme itu meski baru sebulan di sini. Zarimuddin sedang tersudut dan egonya terluka. Dia butuh peluru, dan dia butuh sekarang.
Aku menelan ludah. Tanganku gemetar dingin di bawah meja, meremas ujung blus batikku. Otakku berputar cepat. Aku punya datanya. Aku membacanya semalam di jurnal kebijakan publik, hanya untuk berjaga-jaga.
Do it now or never, Rania.
"Izin, Pak," suaraku memecah ketegangan.
Tidak terlalu keras, tapi cukup untuk membuat sepuluh kepala menoleh serentak. Termasuk tatapan tajam Pramono yang seolah berkata: Anak baru tahu apa?
Aku memaksakan diri menatap lurus ke arah Pramono, mengabaikan jantungku yang berdegup gila-gilaan. "Soal defisit anggaran... Ada preseden di Kabupaten Bangka Barat tahun lalu. Mereka pakai skema cost-sharing dengan CSR perusahaan tambang untuk pembangunan GOR. Beban APBD turun 60%."
Aku menggeser laptopku, menampilkan grafik data yang sudah kusiapkan. "Dan partisipasi publik naik 40% dalam enam bulan karena mereka merasa memiliki gedung itu. Datanya valid, Pak. Ini bisa jadi solusi win-win untuk Sijuk."
Hening.
Pramono berhenti membalik kertas. Ia menatap grafik di layar laptopku, lalu melirik Zarimuddin. "Staf Bapak?"
Zarimuddin tersenyum. Senyum kemenangan yang tipis tapi arogan. Egonya baru saja diselamatkan. "Analis Kebijakan baru saya. Lulusan terbaik Latsar tahun ini."
Pramono dengus, menutup mapnya kasar. "Oke. Kalau skema CSR bisa masuk, kita bahas lagi minggu depan. Rapat ditutup."
Saat orang-orang mulai membereskan barang, Zarimuddin menoleh padaku. Tidak ada kata-kata. Hanya kedipan mata sekilas dan gumaman tanpa suara: Good job.