Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #4

Jejak yang Tak Terhapus

Pukul empat sore adalah waktu paling berbahaya di Bappeda.

Energi pagi sudah habis menguap, AC sentral terasa semakin dingin menusuk tulang, dan cahaya matahari sore yang masuk lewat celah blinds menciptakan garis-garis debu yang melayang di udara. Di jam-jam seperti ini, batas profesionalisme sering kali menjadi setipis tisu.

Aku menyandarkan punggung ke kursi yang bantalannya mulai kempes. Di layar laptop, kursor berkedip di akhir kalimat Laporan Pendahuluan yang macet sejak satu jam lalu.

Ting.

Bukan dari WhatsApp Web. Bunyi notifikasi itu berasal dari ponselku yang tergeletak di meja.

Pak Zar: Suntuk?

Satu kata. Tiga menit setelah aku mengunggah Instagram Story foto cangkir kopiku yang kosong dengan caption emoji baterai merah.

Aku menggigit bibir. He's watching. Pejabat Eselon III yang sibuk itu meluangkan waktu untuk mengecek update status staf barunya. Ada desiran hangat yang merambat di dadaku---sensasi diperhatikan yang membuatku merasa penting.

Aku: Lumayan, Pak. Otak sudah not responding.

Pak Zar: Pulanglah tepat waktu. Pekerjaan negara tidak akan selesai hanya dalam satu hari. Jangan sampai sakit, nanti saya kehilangan partner debat.

Dadaku menghangat. Partner debat. Validasi itu lagi. Zarimuddin tidak menganggapku bawahan yang harus disuruh-suruh, tapi mitra intelektual.

Aku baru saja mengetik balasan---sesuatu yang witty tentang dedikasi abdi negara---ketika sebuah sikut menyenggol lenganku pelan.

"Nia, psst," bisik Dian dari kubikel sebelah. Matanya melotot ke arah pintu lobi, alisnya terangkat tinggi. "Liat siapa yang dateng. Ratu Lebah masuk sarang."

Aku mendongak. Dan seketika itu juga, aku mencium aroma itu.

Bukan aroma kopi basi dari pantry, bukan pula bau minyak angin Pak Joko. Ini aroma floral yang lembut, mahal, dan... segar.

Seorang wanita berdiri di lobi.

Dia tidak mengenakan gaun pesta yang mencolok, hanya setelan tunik berwarna sage green sederhana dengan potongan modern. Tapi aku tahu bahan itu---jenis kain premium yang jatuh sempurna di badan. Jilbab paris cream-nya melengkung paripurna di dahi, membingkai wajah yang riasannya masih matte meski hari sudah sore.

Aku menelan ludah, refleks melirik pantulan wajahku di layar monitor mati: berminyak di area T-zone, jilbab miring, dan mata layu. Perbandingan yang brutal.

Suasana kantor mendadak hening. Suara ketikan keyboard berhenti. Mbak Lastri membenarkan letak kacamata, Pak Joko pura-pura sibuk membalik koran tapi matanya melirik. Semua ikan di akuarium ini sedang mengamati predator baru yang masuk.

Wanita itu melangkah pasti melewati deretan kubikel, lalu berhenti tepat di depan mejaku.

"Permisi, Mbak?" Suara itu halus, sopan.

Aku refleks berdiri, nyaris menyenggol botol minumku. "I-iya, Bu. Benar."

"Saya Tika. Istrinya Mas Zar."

Tangan wanita itu terulur. Kulitnya halus, kukunya terawat rapi dengan manicure bening. Aku menjabatnya ragu-ragu. Tanganku sendiri terasa kasar dan dingin oleh keringat.

"Oh, Bu Tika. Maaf, saya nggak ngenalin. Selamat sore, Bu." Aku tergagap. Dian di sebelahku pura-pura sibuk mengetik, tapi telinganya pasti terpasang tajam.

"Nggak apa-apa, Mbak. Saya memang jarang main ke sini." Tika melepaskan jabat tangan, lalu matanya menyapu meja kerjaku sekilas.

Hanya sedetik, tapi aku merasa wanita itu sedang melakukan scanning menyeluruh. Dari tumpukan berkas, sampai ponselku yang layarnya masih menyala menampilkan ruang obrolan dengan kontak bernama 'Pak Zar'.

Lihat selengkapnya