Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #5

Dua Sisi Kaca

Tiga hari.

Sudah tujuh puluh dua jam sejak Tika keluar dari ruangan itu sambil tersenyum manis, dan sejak saat itu pula, Zarimuddin berubah menjadi hantu.

Tidak ada lagi pesan link Spotify di malam hari. Tidak ada lagi diskusi liar soal kebijakan publik di sela jam makan siang. Bahkan di grup WhatsApp bidang, Zarimuddin hanya membalas laporanku dengan stiker jempol kaku ala bapak-bapak.

Aku mengaduk kopi sasetku dengan gerakan lambat di pantry. Uap panas mengepul, membawa aroma gula jagung artifisial yang menyengat, tapi tidak cukup untuk menghangatkan rongga dadaku yang terasa kosong.

Rasanya seperti pecandu yang dipaksa berhenti mendadak. Withdrawal yang menyiksa. Tanganku gatal ingin mengecek ponsel setiap lima detik, berharap ada nama itu di sana.

"Kopi saset lagi?"

Aku menoleh kaget. Pramono berdiri di ambang pintu pantry.

Kepala Bidang Infrastruktur itu terlihat kontras dengan pantry yang kusam. Ia mengenakan kemeja biru navy licin dan menenteng tumbler Corkcicle warna matte black. Saat ia membuka tutupnya, aroma kopi Arabica asli—asam, fruity, mahal—langsung menguasai ruangan, mengusir bau kopi saset murahanku.

"Siang, Pak Pram," sapaku kaku. Aku refleks menyembunyikan gelas belimbingku di balik punggung.

Pramono melangkah masuk, menuang air panas dari dispenser untuk membasahi bibir tumbler-nya. Gerakannya santai, tapi matanya tajam mengamatiku dari balik kacamata frameless.

"Kamu cerdas, Nia," ucap Pramono tiba-tiba. "Saya baca draf laporanmu soal Sijuk. Sayang kalau otak encer begitu cuma jadi tukang tepuk tangan buat visi orang lain."

Aku terdiam. "Maksud Bapak?"

Pramono menyesap kopinya pelan, menikmati ekspresi bingungku. "Zarimuddin itu... pemimpi. Bagus buat pidato, bahaya buat anggaran. Dia suka terbang tinggi, tapi lupa kalau kakinya masih harus napak di tanah."

Pria itu melangkah setindak lebih dekat. Menginvasi ruang pribadiku.

"Di birokrasi, idealisme tanpa realisme itu bunuh diri, Nia. Kalau kamu butuh mentor yang bisa ngajarin cara kerja sistem yang sebenarnya—bukan cuma teori di awang-awang—pintu saya selalu terbuka."

Ini bukan tawaran. Itu rekrutmen. Aku sadar aku sedang melihat predator lain. Pramono sedang mencoba membajak pasukan musuh yang sedang terluka dan galau. Atau lebih buruk lagi, ia tidak benar-benar menginginkan otakku. Ia hanya ingin menjadikanku pion—senjata dari dalam yang tahu betul titik lemah Zarimuddin untuk dijatuhkan di depan Kaban. Tatapan matanya yang terlalu menilai itu mengonfirmasi firasatku.

Aku baru saja membuka mulut untuk menjawab sopan, ketika bayangan gelap muncul di pintu.

Zarimuddin.

Wajahnya keruh. Rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. Ia tidak membawa gelas atau berkas. Ia hanya berdiri di sana, memancarkan aura dingin yang membekukan uap kopi di udara.

"Rania sudah punya mentor," suara Zarimuddin rendah, memotong ketegangan di pantry.

Lihat selengkapnya