Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #6

Rasa Rendang

Pukul sebelas siang. Matahari Belitung sedang terik-teriknya, memanggang atap genteng tanah liat gedung tua Bappeda. Di dalam bangunan peninggalan Belanda ini, langit-langit yang tinggi dan dinding tebal biasanya cukup untuk menahan panas. Namun hari ini, hawa di ruangan besar tanpa sekat itu terasa gerah dan menyesakkan.

Rasa lapar pegawai yang biasanya memuncak di jam ini mendadak hilang. Digantikan oleh ketegangan yang merambat dari pintu kayu jati utama yang berat.

"Selamat siang, semuanya!"

Suara itu memantul di dinding-dinding tinggi, cerah dan sopan.

Aku mendongak dari balik monitorku. Tika berdiri di ambang pintu. Cahaya siang dari jendela krepyak besar di belakangnya menciptakan siluet yang mengintimidasi. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Di tangan kanannya, dia menenteng rantang susun stainless steel besar, dan di tangan kirinya ada kantong kertas yang menguarkan aroma santan dan rempah yang kuat.

Aroma rendang.

"Maaf mengganggu jam kerjanya," ucap Tika sambil melangkah masuk. Hak sepatunya beradu nyaring dengan lantai tegel kuno yang bermotif kembang. Tak. Tak. Tak. "Saya masak agak banyak hari ini. Daripada mubazir di rumah, mending saya bawa ke sini buat teman makan siang Bapak Ibu sekalian."

"Waduh, Bu Kabid repot-repot amat," celetuk Pak Joko, matanya langsung berbinar.

Tika tersenyum ramah, lalu berjalan lurus melewati deretan meja staf yang disusun memanjang di aula tengah gedung itu. Ia memegang satu kotak makan Tupperware kecil di tangannya yang bebas.

Jantungku mulai berpacu. Instingku berteriak lari, tapi kakiku terpaku di bawah meja.

Tika berhenti tepat di depan mejaku.

Satu ruangan hening. Bahkan dengung kipas angin tua di langit-langit seolah tak terdengar. Dian di sebelahku pura-pura sibuk membetulkan jilbab, tapi aku tahu dia menahan napas.

Tika meletakkan kotak makan itu di meja kayuku.

"Ini, Mbak Rania. Khusus buat kamu."

Tika tersenyum. Senyum yang melengkung sempurna, mencapai matanya, namun sedingin ubin tegel di bawah kaki kami.

Aku memaksakan diri berdiri. Kursi kayuku berdecit nyaring saat terdorong ke belakang, membuatku semakin menjadi pusat perhatian.

"Wah, Bu... makasih banyak. Jadi nggak enak saya."

"Lho, kenapa nggak enak? Harus dimakan dong." Tika menatapku lekat-lekat. Matanya menyapu wajahku, seolah sedang mencari retakan di topengku.

"Mas Zar sering cerita soal kamu akhir-akhir ini," ujar Tika. Suaranya pelan, tapi gema ruangan tua itu membuatnya terdengar jelas sampai ke meja ujung. "Katanya dia takut kehilangan partner debat kalau kamu sakit."

Lihat selengkapnya