Pagi itu dimulai dengan sebuah insiden kecil yang tidak dilihat oleh siapa pun, namun menghancurkan aku sepenuhnya.
Pukul sembilan pagi, aku masuk ke ruangan kaca itu untuk menyerahkan Draf Laporan Akhir Sijuk. Biasanya, ini adalah momen "curian". Zarimuddin akan menahan berkas itu sedikit lebih lama, membiarkan jari kami bersentuhan sekilas, lalu menatap mataku sambil tersenyum tipis---sebuah kode rahasia yang berarti: "Terima kasih sudah mengerti saya."
Tapi hari ini berbeda.
Aku meletakkan map itu di meja. Zarimuddin tidak mendongak dari layar laptopnya.
"Terima kasih," gumamnya datar.
Pria itu mengulurkan tangan untuk mengambil map tersebut. Aku, karena terbiasa dengan ritme lama kami, menyodorkannya sedikit lebih maju. Saat jariku hampir menyentuh punggung tangan Zarimuddin, pria itu menarik tangannya dengan gerakan sentak yang kasar.
Seperti tersengat listrik. Atau lebih parah: seperti menghindari najis.
Zarimuddin mengambil ujung map itu dengan dua jari---memastikan tidak ada kontak kulit sekecil apa pun---lalu menariknya cepat.
"Silakan kembali bekerja, Rania," ucapnya dingin. Tanpa tatapan mata. Tanpa senyum.
Aku keluar dari ruangan itu dengan tangan gemetar. Perubahan interaksi fisik itu adalah tamparan yang lebih keras daripada kata-kata kasar. Dulu tangan itu mencari kehangatanku, sekarang tangan itu menghindariku seolah aku adalah virus.
"Nah, gitu dong, Nong."
Suara Pak Suroso menyapaku saat aku sedang melamun di parkiran motor sore harinya, menunggu Reza yang berjanji menjemput. Pria tua itu sedang menyapu halaman, tapi ia berhenti sejenak untuk menatapku sambil tersenyum lebar---senyum tulus seorang bapak.
"Bapak perhatikan, ikam sekarang sudah jarang lembur-lembur ndak jelas di atas," kata Pak Suroso, menyandarkan dagu di gagang sapu. "Sudah sering pulang tenggo. Wajah ikam juga lebih cerah, ndak kusut mikirin negara terus."
Aku memaksakan senyum sopan. "Iya, Pak. Lagi pengen santai aja."
"Bagus itu," Pak Suroso mengangguk mantap. "PNS itu lari maraton, bukan lari sprint. Ndak usah ngoyo. Ndak usah aneh-aneh. Yang penting aman, pensiun tenang."
Pak Suroso menepuk bahuku bangga. "Bapak senang lihatnya. Ikam sudah kembali ke jalan yang benar. Ndak usah main api, nanti angus."
Pujian itu tulus. Pak Suroso benar-benar lega melihat aku tidak lagi terjebak di ruangan kaca Zarimuddin. Bagi Pak Suroso, Rania yang "normal" ini adalah Rania yang sukses.
Tapi bagiku, pujian itu terdengar seperti ucapan belasungkawa.