Sore itu, di parkiran motor Bappeda yang mulai lengang, aku melihat sisi lain dari Dian.
Biasanya, Dian adalah ratu gosip yang tak pernah kehabisan baterai. Tapi hari ini, aku menemukannya sedang jongkok di samping Honda Beat-nya, menatap layar ponsel dengan wajah keruh. Bahunya merosot, seolah menahan beban tak kasat mata.
"Yan? Kenapa? Ban bocor?" tanyaku, mendekat sambil menenteng helm.
Dian tersentak kaget. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya---tapi tidak cukup cepat. Aku sempat melihat sekilas aplikasi mobile banking dengan saldo yang memprihatinkan.
"Eh, Nia. Nggak kok," Dian memaksakan tawa, tapi suaranya sumbang. "Cuma lagi ngitung... cukup nggak ya bensin sampai gajian minggu depan."
Aku terdiam. Aku tahu Dian adalah tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah pensiun, dan dia membiayai kuliah dua adiknya. Tapi mendengarnya secara langsung, di parkiran panas ini, rasanya berbeda.
"Yan, kalau lo butuh..." Aku merogoh tas.
"Nggak usah," potong Dian cepat, mengangkat tangan. Senyumnya berubah tulus, tapi ada ketegasan di matanya. "Gue masih bisa handle. Paling gue puasa jajan boba seminggu."
Dian berdiri, memasang helmnya. Kaca helm itu terbuka separuh, menampilkan matanya yang lelah.
"Lo tahu kenapa gue nggak pernah mau ikut-ikutan kubu Pak Zar atau Pak Pram?" tanya Dian tiba-tiba.
Aku menggeleng.
"Karena gue nggak punya kemewahan buat milih, Nia," kata Dian pelan. "Lo pinter, lo idealis, lo mungkin kerja buat passion atau karir. Kalau lo jatuh, lo masih punya sayap."
Dian menunjuk motornya sendiri.
"Kalau gue jatuh, adik-adik gue putus sekolah. Gue harus main aman. Gue harus jadi air yang ngikutin bentuk wadah, mau wadahnya merah atau biru, yang penting gue nggak tumpah."
Kalimat itu menamparku lebih keras daripada sindiran Tika. Selama ini, aku menganggap sikap netral Dian adalah bentuk ketidakpedulian. Ternyata itu adalah strategi bertahan hidup yang paling brutal. Dian memilih menjadi "dangkal" dan "receh" demi melindungi periuk nasinya. Sementara aku? Aku menjadikan kantor ini panggung drama romansa intelektualku, mempertaruhkan posisi yang mati-matian dipertahankan orang seperti Dian.
"Jangan main api terus, Nia," bisik Dian sebelum menyalakan mesin motor. "Sayang karier lo. Lo punya apa yang gue nggak punya: pilihan."
Motor Dian melaju keluar gerbang, lampunya mengecil menjadi titik merah di kegelapan. Meninggalkan asap tipis dan rasa bersalah yang tebal di dadaku.
Pukul delapan malam.
Aku sedang berusaha keras menjadi manusia normal. Aku sudah mandi, memakai piyama katun yang nyaman, dan memaksakan diri membaca novel populer yang dipinjamkan Dian---kisah cinta remaja yang manis dan tidak berbahaya. Di sebelahku, segelas susu hangat mengepul.
Ini adalah resep "hidup sehat" yang kususun sendiri. Detoksifikasi dari racun birokrasi dan obsesi terhadap atasan. Ponselku tergeletak di meja belajar, dalam mode silent.
Lalu, layar itu menyala.
Bukan pesan WhatsApp. Bukan notifikasi Instagram. Itu panggilan telepon.
Nama "Pak Zar" berkedip di layar.
Jantungku tidak sekadar berdebar; rasanya seperti berhenti, lalu memukul tulang rusuk dengan palu godam. Selama seminggu terakhir, pria itu memperlakukanku seperti penderita kusta. Menghindar, membuang muka, menjawab seperlunya. Dan sekarang, di jam istirahat, dia menelepon?
Jangan diangkat, teriak logikaku. Ini jebakan!