Rapat itu bukan rapat biasa. Itu eksekusi publik.
Udara di ruang rapat Bappeda terasa berat, seolah oksigen disedot habis oleh ego laki-laki yang sedang bertarung. Aku duduk di barisan belakang, meremas jemariku yang dingin.
Pramono berdiri di depan layar proyektor, laser pointer-nya menari-nari liar di atas grafik yang ditampilkan Zarimuddin.
"Filosofi nggak bisa beli semen, Pak Zar," suara Pramono tajam, disambut gumaman setuju dari beberapa Kabid lain. "Bapak bicara soal 'jiwa zaman', soal 'memori kolektif'. Tapi anggaran kita defisit. BPK tidak akan mengaudit 'jiwa'. Mereka mengaudit angka."
Pramono berbalik, menatap forum dengan senyum kemenangan. "Saya usulkan proyek Sijuk dicoret. Alihkan dananya untuk drainase kota. Itu lebih... masuk akal."
Aku melihat punggung Zarimuddin menegang. Dia terpojok. Dia duduk di kursi pimpinan, tapi bahunya merosot. Aku bisa melihat keringat dingin mengilap di pelipisnya dari tempatku duduk. Singa podium itu kehilangan aumannya. Dia gagap, membuka-buka lembar dokumen dengan tangan gemetar, mencari data yang tidak dia kuasai.
Lalu, dia menoleh.
Matanya mencariku di barisan belakang. Tatapan itu bukan lagi tatapan atasan ke bawahan. Itu tatapan orang tenggelam yang melihat satu-satunya sekoci. Help me.
Darahku berdesir panas. Adrenalin membanjiri otakku, menghapus rasa takut, menghapus keraguan, menghapus bayangan Tika dan rendangnya. Aku bukan lagi staf junior yang kemarin makan hati. Aku adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang memegang pelurunya.
Aku berdiri. Bunyi kursi lipat yang terdorong ke belakang terdengar nyaring di ruangan hening itu.
"Izin, Pak Kaban," suaraku tenang, tapi memiliki resonansi logam yang dingin. "Ada kekeliruan fatal dalam argumen Pak Pramono."
Semua kepala menoleh. Pramono menyipitkan mata, tersenyum meremehkan. "Oh? Silakan, Dek Rania. Bagian mana yang keliru? Filosofinya?"
"Datanya," jawabku datar.
Aku berjalan maju, mengambil alih laptop yang terhubung ke proyektor. Jemariku menari di atas keyboard, membuka file Excel yang aku dan Zarimuddin kerjakan pukul dua pagi tadi.
"Pak Pramono menggunakan asumsi inflasi tahun 2019 untuk menolak proyek ini. Itu data pra-pandemi," ujarku sambil menunjuk grafik batang yang kini muncul di layar. Grafik yang tegas, tajam, dan tak terbantahkan. "Menggunakan baseline itu di tahun 2025 adalah cacat logika, Pak. Itu sama saja merencanakan perjalanan ke bulan pakai peta jalan raya Jakarta."
Terdengar suara terkesiap di ruangan itu. Aku tahu aku tidak sedang mengoreksi. Aku sedang mempermalukan. Dan rasanya nikmat sekali.
"Jika kita pakai data BPS terbaru---yang sudah saya dan Pak Kabid hitung ulang semalam---proyek Sijuk justru akan menutup defisit lewat retribusi pariwisata di tahun ketiga. Ini bukan pemborosan, Pak Pram. Ini penyelamatan aset."
Aku menatap Pramono lurus-lurus. "Kalau kita ikuti saran Bapak untuk mencoret proyek ini berdasarkan data usang, kitalah yang akan jadi bahan tertawaan saat audit BPK nanti. Apakah Bapak siap bertanggung jawab?"
Hening. Sangat hening.
Wajah Pramono memerah padam, kontras dengan kemeja navy-nya. Dia membuka mulut untuk membantah, tapi tidak ada suara yang keluar. Angka di layar itu telanjang dan brutal. Dia kalah.
"Cukup," suara Pak Kaban memecah kebekuan. Beliau mengangguk-angguk, menatap grafik itu dengan puas. "Datanya valid. Masuk akal. Proyek Sijuk jalan terus. Terima kasih, Rania. Analisis yang tajam."
Aku kembali ke tempat dudukku. Kakiku tidak gemetar. Tanganku tidak dingin. Justru sebaliknya. Aku merasa tubuhku ringan, seolah melayang. Aku melirik Zarimuddin. Pria itu sudah tegak kembali. Wibawanya pulih. Dia menatapku sekilas---sebuah kedipan mata yang penuh kebanggaan dan persekutuan rahasia.
Aku tersenyum tipis. Persetan dengan rendang. Persetan dengan etika. Ini rasanya berkuasa.
Siang harinya, aku masuk ke pantry untuk membuat kopi. Bukan kopi saset. Aku merasa berhak mendapatkan sesuatu yang lebih baik hari ini.
Pintu pantry terbuka. Pak Suroso masuk membawa ember pel.
"Siang, Pak Suroso!" sapaku riang. Energiku masih meluap-luap sisa kemenangan tadi. "Bapak lihat nggak tadi di rapat? Rame banget, Pak."
Pak Suroso tidak menjawab. Pria tua itu meletakkan embernya pelan-pelan. Ia menatapku. Tidak ada senyum jenaka. Tidak ada nasihat soal "jalan yang benar". Tidak ada analogi galon air.
Tatapan Pak Suroso kosong. Kecewa. Seperti seorang ayah yang melihat anaknya pulang mabuk dan menabrak pagar rumah, tapi sudah terlalu lelah untuk marah.