Tiga hari setelah insiden telepon di koridor gelap itu, aku berubah menjadi hantu di dalam mesin birokrasi.
Aku datang tepat waktu, duduk di kubikelku, dan mengerjakan tugas dengan presisi yang menakutkan. Tidak ada lagi senyum malu-malu. Tidak ada lagi tatapan mencuri ke arah ruangan kaca. Tidak ada lagi diskusi senja tentang buku atau lagu.
Di mata rekan-rekan kerja, aku mungkin terlihat profesional. Tapi di dalam diriku, aku mati rasa.
Kalimat "She's just a newbie" dan "Give her time" terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Setiap kali Zarimuddin melintas dan menyapaku dengan nada ramah---nada yang dulu terdengar hangat, kini terdengar merendahkan---aku hanya membalas dengan anggukan kaku.
Kamu palsu, batinku setiap kali melihat wajah itu. Kamu palsu, dan aku bodoh karena pernah menganggapmu dewa.
Siang itu, AC sentral kantor terasa mencekik. Dinding-dinding kaca ini terasa semakin sempit, seolah hendak meremukkanku. Aku memutuskan untuk menyingkir sejenak ke pantry, berharap menemukan sedikit ketenangan di sela jam istirahat.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Di pantry, aroma kopi saset bercampur dengan wangi kerupuk yang dibawa Mbak Lastri menguar hangat. Staf senior dari Sekretariat yang seumuran dengan Pak Suroso itu baru saja masuk. Mbak Lastri adalah sosok yang tegas tapi hangat, dengan senyum yang selalu genuine meski mata tajamnya bisa membaca situasi dengan akurat.
"Hebat kamu, Nia," katanya ringan, sambil meletakkan termos kopi pribadinya di atas meja. Matanya menelitiku dengan cara yang hanya dimiliki orang berpengalaman. "Anak baru sudah bisa bikin Pak Kaban menoleh. Jarang-jarang lho, biasanya beliau cuek sama presentasi level eselon tiga."
Aku tersenyum canggung, mengaduk tehku yang masih panas. "Datanya saja yang mendukung, Mbak."
Mbak Lastri tertawa tipis mendengar kerendahhatianku. "Di kantor ini, data itu seperti pisau, Nduk. Hasilnya tergantung siapa yang pegang," ujarnya penuh arti.
Ia berhenti sebentar, menatapku lekat-lekat, lalu menambahkan dengan suara yang lebih pelan. "Beberapa tahun lalu ada juga anak baru yang pintar, sangat pintar. Jadi kesayangan Kabid. Begitu atasannya dipindah ganti baru, dia sendirian. Susah hidupnya."
Aku terdiam. Kata-kata Mbak Lastri terdengar sangat serius. Itu bukan nasihat biasa, tapi peringatan. Tanda sayangnya kepadaku sebagai bawahan, anak baru, dan sesama perempuan.
Mbak Lastri menepuk bahuku pelan sebelum beranjak keluar, lalu berhenti di ambang pintu untuk memberikan satu kalimat terakhir.
"Jadi kesayangan atasan itu seperti pegang gelas kaca," katanya. "Kelihatan indah, tapi kalau sekali jatuh, pecahannya bisa melukai tanganmu sendiri."
Mbak Lastri mengelus pipiku sebentar, tatapannya menyiratkan keprihatinan yang tulus, sebelum ia melangkah kembali ke ruangannya di Sekretariat.
Aku kembali ke mejaku dengan perasaan gamang. Pencapaianku di rapat kemarin terasa hambar. Kata-kata itu terus terngiang. Gelas kaca. Melukai tangan sendiri.
Pukul tiga sore, aku tidak tahan lagi. Kubikelku terasa makin sempit dan sesak. Tumpukan berkas di meja seakan menertawakan kenaifanku. Di seberang sana, dari balik kaca, Zarimuddin terlihat tertawa renyah menerima telepon---mungkin dari Pramono lagi, menertawakan "ikan-ikan kecil" di kantor ini.
Aku mengetik pesan teks ke Dian di meja kubikel sebelah: Kalau Pak Kabid nyari, bilang aku ijin pulang. 'Sakit perut'.