Senin pagi itu, aku datang ke kantor dengan jantung yang ditabuh bertalu-talu. Sepanjang perjalanan dari kos ke Bappeda, aku menyusun skenario di kepalaku. Apa yang harus kukatakan kalau Zarimuddin bertanya kenapa pesannya semalam tidak dibalas? Maaf Pak, ketiduran? Atau haruskah aku jujur: Saya sedang mencoba waras, Pak.
Aku merapikan seragam khakiku yang sedikit kusut di bagian pinggang, menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke "akuarium".
Pukul 07.45. Zarimuddin belum datang.
Aku duduk di kubikelku. Layar komputer menyala menampilkan wallpaper standar Windows, tapi mataku terpaku pada pintu utama. Ketegangan di perutku melilit, asam lambung naik ke kerongkongan. Aku merasa seperti terdakwa yang duduk di kursi pesakitan, menunggu hakim mengetuk palu vonis.
Sepuluh menit kemudian, langkah kaki tegap yang familiar itu terdengar. Tak. Tak. Tak. Irama langkah yang percaya diri. Irama langkah pemilik wilayah.
Zarimuddin masuk.
Wajahnya segar, seolah dia tidur delapan jam semalam. Kemeja khakinya licin sempurna, rambutnya disisir rapi dengan sedikit pomade. Tidak ada jejak "Zarimuddin berantakan" yang mengutip filsafat Romawi di Zoom jam dua pagi.
Aku menegakkan punggung. Aku menyiapkan senyum sopan. Aku menyiapkan mental untuk tatapan tajam, sindiran halus, atau pertanyaan dingin, "Kenapa pesan saya tidak dibalas?"
Tapi vonis itu tidak pernah datang.
Karena hakimnya bahkan tidak menoleh.
Zarimuddin berjalan lurus melewati kubikelku. Jarak kami hanya satu meter. Aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya---aroma yang dulu berarti "aman", kini berarti "bahaya". Tatapannya lurus ke depan, fokus pada pintu ruangannya sendiri. Ia tidak melambat. Ia tidak melirik. Ia tidak mengangguk.
Seolah-olah kubikelku kosong. Seolah-olah aku tembus pandang.
"Pagi, Pak Joko! Gimana cucu baru? Sehat?" sapa Zarimuddin riang saat melewati meja Pak Joko di deretan belakang. Suaranya renyah, hangat, penuh karisma.
"Alhamdulillah, sehat Pak Kabid!" sahut Pak Joko antusias. "Nanti siang kita ngopi ya, Pak. Saya mau dengar cerita aqiqah-nya."
Zarimuddin tertawa---tawa lepas yang sengaja dikeraskan---lalu masuk ke ruangannya. Pintu tertutup.
Aku terpaku di kursiku. Tanganku yang sudah siap menyalami, kini terkulai kaku di atas meja. Diabaikan ternyata jauh lebih menyakitkan daripada dimarahi. Kalau dimarahi, keberadaanmu masih diakui. Tapi ini? Ini adalah penghapusan. Zarimuddin baru saja mendeklarasikan bahwa aku tidak ada.
Siksaan itu berlanjut sepanjang hari.