Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #12

Gema dan Linimasa

Seminggu sudah berlalu sejak sanksi sunyi itu dijatuhkan.

Aku mulai terbiasa menjadi hantu. Aku belajar menavigasi kantor tanpa meninggalkan jejak suara. Aku belajar makan siang di meja kerjaku, menunduk saat berpapasan dengan Zarimuddin di lorong, dan pulang tepat waktu tanpa berharap ada notifikasi pesan di ponselku. Rutinitas ini aman. Steril. Seperti pasien di ruang isolasi yang hanya menunggu waktu sembuh---atau mati pelan-pelan.

Siang itu, aku sedang menginput data Laporan Kinerja Instansi Pemerintah. Pekerjaan klerikal murni. Copy-paste. Input. Save. Tidak butuh otak, hanya butuh jari.

"Nia." Dian mencolek lenganku dari kubikel sebelah. Suaranya pelan, seolah takut didengar dinding.

Aku menoleh. Dian menyodorkan ponselnya dengan layar menyala terang.

"Jangan baper ya. Tapi lo harus lihat ini. Biar lo sadar."

Aku menerima ponsel itu. Aplikasi Instagram terbuka. Akun resmi @Tika_Zar.

Foto terbaru yang diunggah satu jam lalu. Di foto itu, Tika berdiri anggun di tengah panggung acara syukuran. Ia mengenakan seragam Dharma Wanita oranye cerah, jilbabnya ditata sempurna. Di sebelahnya, Zarimuddin berdiri gagah memegang tumpeng. Mereka tertawa bahagia, dikelilingi ibu-ibu pejabat lain yang bertepuk tangan.

Tapi bukan fotonya yang membuat dadaku sesak. Itu caption-nya.

> Alhamdulillah. Selamat kepada Bapak Kabid Sosbud atas disetujuinya Proyek Pusat Kebudayaan Sijuk. Sebuah langkah besar untuk pariwisata Belitung. Di balik kesuksesan suami, selalu ada doa istri yang tak putus. Terima kasih Mas Zar sudah berjuang keras lembur siang malam demi visi ini. Bangga bisa mendampingi dan menyiapkan nutrisi terbaik biar Bapak tetap sehat mengawal pembangunan daerah. #DharmaWanita #IstriPNS #SijukBangkit #CoupleGoals

Aku membaca tulisan itu dua kali. Tiga kali.

Lembur siang malam demi visi ini.

Lihat selengkapnya