Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #13

Pemain Bayangan

Aku bangun pagi itu tanpa mata bengkak.

Tangisanku semalam telah mengering, meninggalkan residu yang keras di dalam dada. Seperti tanah liat yang dibakar api, hatiku tidak lagi lunak. Ia telah mengeras menjadi keramik.

Aku memilih pakaian kantorku dengan hati-hati. Bukan gamis pastel yang membuatku terlihat lembut dan penurut, tapi setelan tunik warna navy tegas dengan jilbab senada. Aku memoles eyeliner sedikit lebih tajam dari biasanya.

Hari ini, aku bukan lagi "Partner Debat". Aku bukan lagi "Senjata".

Hari ini, aku adalah Operator. Dan operatorlah yang memegang tombol kendali mesin.

Pukul 09.00.

Kepanikan di ruangan kaca Zarimuddin sudah mencapai puncaknya.

Dari balik kubikelku, aku mendengar suara Zarimuddin meninggi.

"Fitri! Ini angkanya kenapa nggak link? Grafiknya kenapa turun? Kalau Banggar tanya soal PAD, saya jawab apa pakai data sampah begini?"

Fitri keluar dengan wajah pucat pasi, nyaris menangis. Tangannya gemetar memegang map biru itu. Dia berhenti sebentar di depan pantry, bersandar di dinding dengan mata tertutup, berusaha mengatur napas yang tersengal.

Aku melihatnya.

Tapi aku tidak bergerak.

Tidak ada waktu untuk empati pagi ini. Ada misi yang harus dijalankan.

Aku tetap tenang menatap monitorku. Di layar terbuka aplikasi SIPD. Ini adalah neraka administratif: menginput rincian belanja alat tulis kantor, menghitung koefisien nasi kotak, dan memastikan kode rekening sesuai aturan Kemendagri. Pekerjaan remeh yang biasanya dihindari pejabat.

Tapi aku menekuninya dengan dedikasi seorang biarawati.

Tik. Tik. Tik.

Suara jemariku mengetik ritmis, konsisten, tanpa jeda.

Zarimuddin keluar dari akuariumnya. Langkahnya lebar menuju mejaku. Aura "Kabid Karismatik"-nya retak, digantikan aura "Bos Panik" yang putus asa.

"Rania," suaranya tertahan, berusaha tidak terdengar memohon di depan staf lain. "Tinggalkan dulu input SIPD itu. Saya butuh kamu revisi narasi Sijuk. Fitri nggak nyambung. Banggar minta file-nya jam sepuluh."

Aku tidak langsung menjawab. Aku menyelesaikan ketikan satu baris kode rekening. Enter.

Baru aku mendongak. Wajahku polos, sopan, dan penuh keprihatinan yang palsu.

"Mohon izin, Pak. Seperti yang saya sampaikan ke Fitri tadi, akun SIPD saya akan dikunci jam dua siang. Saya harus input 500 rincian belanja wajib. Kalau saya tinggal, satu kantor bisa nggak gajian bulan depan."

"Persetan dengan SIPD!" desis Zarimuddin, suaranya mendesis tajam. "Nama saya yang dipertaruhkan di Banggar jam sepuluh nanti! Ini prioritas!"

"Tapi, Pak." Aku menahan jeda, menatapnya dengan raut penuh keprihatinan yang palsu. "Arahan Bapak minggu lalu di telepon dengan Pak Pramono sangat jelas: saya disarankan untuk belajar navigasi dasar dulu dan tidak memegang kendali hal rumit karena saya masih newbie."

Mata Zarimuddin membelalak. Dia ingat percakapan itu. Dia tidak menyangka aku mendengarnya.

"Jadi saya sedang mematuhi arahan Bapak," lanjutku tenang, menusukkan pisau itu lebih dalam. "Saya takut kalau saya pegang data strategis Sijuk dengan kemampuan pemula saya, saya malah bikin Bapak malu lagi. Bapak kan Visioner, pasti bisa handle teknis kecil begini sama Fitri."

Zarimuddin ternganga. Rahangnya mengeras, wajahnya memerah padam. Dia tahu dia sedang dikerjai, tapi aku membungkus pembangkanganku dengan kertas kado kepatuhan birokrasi yang sempurna. Dia tidak bisa marah. Aku sedang bekerja.

Zarimuddin mendengus kasar, membanting tumpukan berkas di mejaku, lalu berbalik badan dan membanting pintu ruangannya.

Aku kembali menatap layar.

Lihat selengkapnya