JUMAT, 09.15 WIB. RUANG KEPALA BIDANG SOSIAL BUDAYA.
"Masuk."
Suara itu terdengar rendah, menembus kaca akuarium yang biasanya kedap suara.
Aku menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-paru seolah aku akan menyelam ke dasar laut dalam. Aku merapikan ujung jilbabku---sebuah kebiasaan gugup yang belum bisa kuhilangkan---lalu mendorong pintu kaca yang berat itu.
Udara di dalam ruangan itu berbeda. Jika di luar sana---di area kubikel staf---udara terasa hangat, lembap, dan penuh aroma soto ayam dari kantin, di dalam sini udara terasa dingin. Kering. Steril. Aroma pengharum ruangan lavender yang mahal bercampur tipis dengan aroma rokok yang disembunyikan.
Zarimuddin duduk di balik meja kebesarannya. Dia tidak sedang menatap laptop. Dia tidak sedang menelepon. Dia sedang menunggu.
Di atas meja kaca yang licin itu, tergeletak selembar surat dengan stempel merah SEGERA di pojok kanan atas. Kertas itu diletakkan persis di tengah, seperti sebuah centerpiece di meja perjamuan.
Tidak ada senyum menyambut. Tidak ada basa-basi, "Gimana kabarmu, Nia?" Zarimuddin hari ini bukan "Mentor Filsofis". Dia adalah "Komandan Perang".
"Duduk," perintahnya singkat.
Aku duduk di kursi hadap. Kursi ini empuk, tapi hari ini rasanya seperti duduk di atas paku.
"Ada arahan langsung dari Pak Sekda pagi ini," Zarimuddin memulai. Matanya menatapku, tapi tidak benar-benar melihatku. Dia menatapku sebagai aset. "Program stunting. Angkanya naik terus---padahal kita sudah kerja keras, anggaran sudah cair, posyandu sudah jalan."
Ia meletakkan telapak tangannya di atas surat itu, lalu mendorongnya perlahan ke arahku. Bunyi kertas bergesekan dengan kaca terdengar nyaring di ruangan sunyi itu.
"Pak Bupati bingung. Pembangunan fisik jalan terus. Rumah sakit ada. Tapi kenapa anak-anak kita masih banyak yang kurus pendek? Data BPS bilang kemiskinan turun, tapi stunting naik. Anomali."
Aku mengambil surat itu. Membacanya sekilas. Bahasa birokrasinya berbelit-belit penuh istilah "Intervensi Sensitif" dan "Intervensi Spesifik", tapi intinya sederhana: Ada yang salah. Cari tahu apa. Sekarang.
"Bappeda diminta bikin peta," lanjut Zarimuddin. Suaranya mulai naik satu oktaf, ada urgensi yang mendesak di sana. "Bukan peta gambar buta kayak anak SD. Tapi peta analitik. Peta yang bisa 'bicara'. Desa mana yang paling parah? Kenapa desa itu? Apa korelasinya dengan air bersih? Apa korelasinya dengan tambang?"
Zarimuddin condong ke depan. Aroma parfum maskulinnya menguar---aroma yang dulu membuat jantungku berdebar karena kagum, kini membuatku berdebar karena waspada.
"Saya butuh jawaban, Rania. Bukan asumsi."
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering. "Deadline-nya kapan, Pak?"
"Dua minggu. Presentasi di Rapat Pimpinan Senin depan."
Mataku membelalak. "Dua minggu? Pak, mengolah data spasial butuh waktu. Apalagi kalau datanya belum bersih. Kita harus overlay data Dinkes, data PU, data BPS..."
"Makanya saya panggil kamu," potong Zarimuddin. Dia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi kulit yang berderit pelan. Tatapannya berubah. Dari mendesak menjadi... menantang.
"Yang Technical Lead-nya kamu."
Bukan pertanyaan. Bukan penawaran. Itu vonis.
"Baik, Pak," jawabku otomatis. Refleks birokrat yang sudah tertanam: Siap, laksanakan. Namun, bagian rasional di otakku berteriak. Ini jebakan. Ini beban kerja gila.
"Data dari mana, Pak?" tanyaku, berusaha terdengar profesional.
"Dinkes punya data by name by address anak stunting. IPW punya peta wilayah. Kamu koordinasi sendiri. Kamu cari caranya. Kamu jahit datanya."
Zarimuddin mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya. Tok. Tok. Tok. Irama yang mengintimidasi.
"Kamu kan pinter."
Tiga kata itu. Diucapkan datar, tanpa nada memuji. Tapi efeknya seperti sengatan listrik.
Aku merasa mual. Zarimuddin tahu tombol mana yang harus ditekan. Dia tidak memuji aku cantik, atau rajin. Dia memuji kecerdasanku. Dia tahu aku haus akan validasi intelektual. Dia tahu aku tidak akan bisa menolak tantangan teka-teki serumit ini.
Zarimuddin sedang melemparkan tulang daging ke anjing yang kelaparan, tahu persis anjing itu akan mengejarnya meski harus lari sampai mati.