Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #15

Kontrak Buta

SELASA, 14.30 WIB. BIDANG INFRASTRUKTUR DAN PENGEMBANGAN WILAYAH.

Kubikel Ferdi terletak di pojok ruangan yang paling suram, terpisah dari keramaian staf lain. Layar komputernya menampilkan peta topografi dengan garis-garis kontur rumit berlapis warna. Headphone besar menutupi telinganya---sebuah tembok tak kasat mata yang berteriak: JANGAN GANGGU.

Aku mengetuk partisi kubikelnya. Dua kali. Tegas tapi sopan.

Ferdi menoleh perlahan. Wajahnya datar. Ia melepas satu sisi headphone-nya. Tatapannya bertanya: Ada apa?

"Mas Ferdi, saya Rania dari Sosbud," kataku langsung, mengabaikan basa-basi. "Saya lihat peta jaringan air bersih yang Mas buat untuk rapat RKPD kemarin."

Aku mencondongkan tubuh sedikit, menatap layar monitor Ferdi. "Keren banget. Detail sampai ke dusun-dusun kecil."

Ekspresi Ferdi berubah. Dari jengkel menjadi... sedikit tertarik. Pujian teknis selalu punya daya tembus sendiri.

"Biasa aja," jawabnya, meski ada nada bangga tipis di sana. "Cuma overlay data teknis sama data wilayah. Banyak yang harus dibersihkan dulu."

"Justru itu yang keren," potongku cepat. "Setahu saya data batas wilayah kita berantakan. Mas pasti harus georeferencing manual, titik per titik, kan?"

Ferdi tertawa kecil---suara manusia pertama yang keluar darinya. "Berantakan itu bahasa sopan. Aslinya kacau balau. Makanya lama banget prosesnya."

Aku membiarkan Ferdi bercerita sebentar soal tantangan teknisnya. Membiarkan egonya dibelai oleh seseorang yang "mengerti".

Sepuluh menit kemudian, aku menarik napas. Saatnya melempar kail.

"Mas, saya lagi coba bikin sesuatu. Peta untuk stunting---anak-anak yang kurus pendek. Saya mau tunjukkan di mana masalahnya, supaya bantuan bisa tepat sasaran."

Aku memberi jeda sebentar, menatap mata Ferdi. "Saya punya data angka dari Dinkes. Tapi tanpa peta dari Mas, itu cuma angka mati di Excel. Saya butuh peta Mas buat bikin data itu... hidup."

Ferdi tidak langsung menjawab. Matanya menerawang ke monitor, seolah sedang memvisualisasikan data itu di kepalanya. "Ini untuk laporan resmi?" tanyanya hati-hati.

"Ini untuk proof of concept," jawabku jujur. Menggunakan istilah teknis yang disukai orang lapangan. "Pembuktian bahwa kalau data kita disatukan, bisa jadi senjata buat selesaikan masalah nyata. Bukan cuma jadi lampiran tebal yang nggak pernah dibaca orang."

Hening sejenak.

"Dan..." aku menambahkan gula terakhir, "Nama Mas akan tercantum resmi sebagai Kontributor Data Spasial. Ini kolaborasi. Co-creator."

Ferdi menatapku lama. Menimbang. Akhirnya, dia menghela napas panjang.

"Kirim flashdisk," katanya. "Saya kasih file peta jaringan air bersih sama faskes. Tapi ini di antara kita aja ya. Anggap aja proyek iseng-iseng di waktu luang."

Aku tersenyum. Senyum kemenangan pertamaku dalam perang ini.

"Deal."

JUMAT, 23.25 WIB. KAMAR KOS RANIA.

Layar laptopku terbagi dua.

Di kiri: Peta Belitung Utara yang error. Titik merah tumpang tindih berantakan dengan layer biru. Visualisasi yang gagal total.

Di kanan atas: Wajah Zarimuddin.

Bukan Zarimuddin versi kantor. Ini Zarimuddin versi rumah. Kemeja khakinya sudah berganti kaos hitam polos. Latar belakangnya adalah ruang kerja pribadi dengan rak buku dan lampu baca kuning temaram.

Aku tidak pernah melihatnya seperti ini. Tanpa armor birokrat. Tanpa wibawa palsu.

"Explain masalahnya," kata Zarimuddin. Suaranya lebih lembut, berat, khas suara larut malam.

"Data nama posyandu tidak mau terklasifikasi otomatis, Pak," jelasku frustrasi. "Saya sudah coba manual grouping, tapi setiap di-refresh, visualisasinya rusak lagi."

Zarimuddin diam. Matanya menyipit menatap layar yang kubagi.

"Share control," perintahnya singkat. "Aku coba langsung."

Aku mengklik Allow Remote Control.

Kursor di layarku bergerak sendiri. Hantu digital yang dikendalikan dari jarak lima kilometer.

Satu jam berlalu dalam keheningan yang... aneh. Hanya ada suara ketikan keyboard---kadang dari laptopku, kadang bergema dari speaker saat Zarimuddin mengetik di sana. Sesekali terdengar gerutuan frustrasi Zarimuddin saat rumusnya gagal.

Aku hanya diam menatap kursor itu menari. Ini intim. Sangat intim. Bukan sentuhan fisik, tapi intellectual intimacy. Aku sedang menonton cara kerja otak Zarimuddin secara real-time. Aku diizinkan masuk ke dalam proses berpikirnya yang berantakan, mencoba-coba, dan vulnerable.

Lihat selengkapnya