Kamis siang terasa lebih panas dari biasanya, atau mungkin hanya kepalaku yang terasa penuh.
Aku berdiri di pantry mencuci tupperware bekas makan siang. Air mengalir keras dari keran, bunyi deras yang sengaja kubiarkan untuk menutupi suara langkah kaki.
Tapi aku tetap tahu saat Mbak Lastri datang.
Langkah perempuan itu selalu senyap. Tahu-tahu dia sudah berdiri di sampingku, mengambil gelasnya sendiri dari rak pengering. Dia tidak langsung bicara. Dia cuma berdiri di sana, mencuci gelas yang sebenarnya sudah bersih---ritual basa-basi untuk menahanku di situ.
"Nduk, kamu masih sering diskusi sama Pak Zarimuddin di luar jam kerja?".
Tanganku berhenti menggosok. Busa sabun menempel di jari.
Aku melirik lewat sudut mata. Wajah Mbak Lastri tidak tersenyum. Tegang. Seperti orang yang hendak menyampaikan berita duka.
"Kadang-kadang, Mbak," jawabku pelan, berusaha terdengar kasual. "Proyek stunting deadline-nya ketat. Harus koordinasi ekstra.".
Mbak Lastri menutup keran airnya. Keheningan tiba-tiba terasa terlalu keras.
"Hati-hati, Nak." Suaranya turun setengah oktaf. "Ibu-ibu DWP mulai ngobrol.".
Dunia seolah berhenti berputar.
Aku mematikan keran. "Ngobrol... tentang apa, Mbak?".
Mbak Lastri melirik pintu pantry---memastikan situasi aman.
"Kemarin, Bu Tika lunch sama Bu Sari. Mereka ngobrol tentang kesibukan suami masing-masing yang... aneh belakangan ini. Bu Tika bilang Pak Zarimuddin sering pulang telat. Bu Sari juga curiga Pak Pramono tiba-tiba terlalu perhatian sama urusan Sosbud.".
Aku menelan ludah. Tenggorokanku kering.
Pola. Mereka melihat pola.
Mbak Lastri meletakkan tangannya di pundakku. Sentuhan singkat, berat, seperti ibu yang memperingatkan anaknya tentang bahaya api.
"Mbak sudah bilang kan, Nduk. Jadi kesayangan atasan itu seperti pegang gelas kaca. Kelihatan indah, tapi kalau sekali jatuh..." Dia memberi jeda yang menusuk. "...pecahannya bisa melukai tanganmu sendiri. Dan tangan orang lain.".
Kata-kata itu menampar.
Orang lain. Tika. Anak-anak Zarimuddin. Keluarga yang terlihat sempurna di Instagram, yang kini mulai retak karena ulahku.
"Terima kasih, Mbak," kataku kaku. "Saya akan lebih hati-hati.".
Mbak Lastri menatapku dengan mata sedih. "Mbak cuma ngingetin. Soalnya Mbak pernah lihat cerita ini. Dan ending-nya tidak pernah bagus untuk yang muda.".
Dia keluar, meninggalkan aku terpaku dengan tupperware penuh busa.
Di luar langit cerah, tapi di dalam sini rasanya badai sudah di depan mata.
---
Pukul 15.00.
Ponselku bergetar di meja.
WA dari Zarimuddin.
> Zarimuddin: Nia, kita perlu lebih hati-hati. Ada yang notice.
Jantungku mencelos. Dia tahu. Tika pasti sudah melabraknya.
Aku mengetik balasan dengan jari gemetar.
> Aku: Siapa?
Tiga puluh detik yang menyiksa. Typing... Hilang. Typing... Hilang lagi.
> Zarimuddin: DWP. Bu Tika + Bu Sari. Mereka baca pola kita.
> Zarimuddin: Understood. Kita pause dulu seminggu. No warung kopi. No late-night calls.
Aku menatap kata itu. Pause.
Seharusnya aku lega. Ini exit ramp. Ini kesempatan untuk kabur sebelum bom meledak.
Tapi yang kurasa justru kosong. Seperti listrik di tubuhku dicabut paksa.
> Aku: Baik, Pak. Understood.
Formal. Sopan. Bohong.
Aku tidak understood. Aku benci pause ini.
---
Sabtu sore. Pantai Tanjung Pendam.
Aku duduk di gazebo kayu, menatap Pulau Kalimoa yang terlihat dekat tapi mustahil digapai. Angin laut menerpa wajah, tapi tidak bisa mengusir sesak di dada.