Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #18

Sinyal-Sinyal Berbahaya

SENIN MALAM. KAMAR KOS.

Jam 22.15. Lima belas menit setelah aku keluar dari warung Pak Rusdi dengan jantung masih berdebar kencang.

Aku duduk di tepi kasur, menatap ikon biru pucat yang baru saja selesai di-install di ponselku. Signal.

Tidak ada riwayat chat. Tidak ada backup cloud yang bisa diakses IT kantor. Aku masuk ke pengaturan, mengaktifkan fitur Disappearing Messages.

Timer set to: 1 hour.

Aplikasi ini bukan untuk koordinasi dashboard stunting. Ini aplikasi untuk hal-hal yang tidak boleh meninggalkan jejak. Ini adalah lubang tikus digital tempat kami bisa bersembunyi dari mata-mata DWP dan CCTV birokrasi.

Layar ponsel menyala. Notifikasi pertama muncul.

Zarimuddin: Testing. Aman?

Dua kata. Simpel. Formal. Tapi efeknya ke tubuhku seperti sengatan listrik statis---mengejutkan dan sedikit menyakitkan.

Jariku melayang di atas keyboard.

"Aman."

Satu kata yang merupakan kebohongan terbesar malam ini.

Karena tidak ada yang aman dari situasi ini. Bukan aplikasinya yang berbahaya, tapi alasan kenapa kami membutuhkannya.

Aku menekan send. Pesan itu terkirim, dan di sampingnya ada jam pasir kecil yang menghitung mundur waktu hidup pesan itu sebelum lenyap selamanya.

Ping.

Zarimuddin: Bagus. Sekarang kita punya ruang sendiri.

"Ruang sendiri."

Bukan "kanal komunikasi aman". Bukan "jalur backup".

Tapi ruang sendiri.

Sebuah deklarasi bahwa kami adalah dua orang yang memisahkan diri dari realitas---sebuah gelembung kedap suara di mana tidak ada istri sah, tidak ada atasan rival, dan tidak ada etika ASN.

Aku tidak membalas. Aku meletakkan ponsel itu di meja seolah benda itu baru saja membakar tanganku.

Aku mematikan lampu kamar, tapi mataku tetap terbuka menatap langit-langit.

Di kegelapan itu, aku menunggu ping selanjutnya.

Dan aku benci mengakui betapa aku menunggunya.

SELASA SIANG. KORIDOR BAPPEDA.

Aku baru keluar dari ruang arsip dengan folder data Puskesmas di tangan saat aku mendengar langkah cepat dari belakang.

"Mbak Rania."

Suara itu. Pramono.

Aku berhenti, menoleh, memasang senyum sopan standar pelayanan publik. "Siang, Pak Pram."

Dia menyamakan langkahnya denganku. Gerakannya halus, penuh perhitungan.

"Lagi sibuk ya? Dashboard stunting kemarin impressive banget. Pak Kaban sampai mention berkali-kali di rapat pimpinan."

"Terima kasih, Pak. Arahan Pak Zarimuddin juga." Aku terus berjalan, mempercepat tempo, berharap dia menangkap isyarat bahwa aku tidak ingin mengobrol.

Tapi Pramono punya kaki yang lebih panjang. Dia mengimbangi langkahku dengan santai.

Lihat selengkapnya