Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #19

Pasir yang Tak Menyimpan Jejak

RABU, 17.20 WIB. PANTAI TANJUNG PENDAM

Aku tiba sepuluh menit lebih awal.

Gazebo beton di ujung timur pantai itu masih kosong. Posisinya strategis: cukup jauh dari area permainan anak-anak yang bising, tapi cukup terbuka agar tidak terlihat mencurigakan.

Aku duduk menghadap laut. Mengeluarkan laptop. Membuka spreadsheet data stunting yang sebenarnya sudah tidak perlu direvisi lagi.

Ini kamuflase.

Zarimuddin yang meminta ini. "Bawa laptop. Biar kalau ada yang lihat, kita punya alibi kuat: kerja lembur di tempat terbuka."

Aku menatap layar yang menampilkan baris-baris angka Puskesmas. Di sekelilingku, dunia berjalan dengan ritme normal yang riuh.

Suara musik dangdut sayup-sayup terdengar dari speaker pedagang odong-odong. Aroma jagung bakar dan cumi panggang menguar tajam, terbawa angin laut yang kencang.

Di depanku, keluarga-keluarga muda menggelar tikar. Seorang bapak sedang meniup balon sabun untuk anaknya yang tertawa melengking. Di sisi lain, sekelompok remaja SMP duduk bergerombol di tanggul batu, tertawa cekikikan sambil saling dorong bahu---malu-malu kucing.

Dunia mereka transparan. Sederhana. Bahagia di permukaan.

Aku tersenyum tipis---senyum yang mengandung sedikit arogansi.

Kalian tidak tahu apa yang sedang terjadi di gazebo ini, batinku. Kalian cuma punya rutinitas. Aku punya rahasia.

Aku merasa seperti agen ganda dalam film thriller. Aku merasa penting. Aku merasa "strategis". Aku bukan bagian dari kerumunan receh itu. Aku adalah pemain catur yang sedang menunggu rajanya.

Pukul 17.30.

Zarimuddin belum muncul.

Tidak masalah. Dia pejabat. Eselon tiga. Mungkin ada last minute call dari Pak Kaban. Atau macet di lampu merah Simpang Lima yang memang selalu chaos jam segini.

Aku mengetik beberapa angka sembarangan di Excel, hanya supaya terlihat sibuk. Jilbabku berkibar-kibar ditiup angin, menampar pipi. Aku merapikannya dengan satu tangan, sementara tangan lain bersiaga di dekat ponsel.

Menunggu notifikasi Signal.

---

17.45 WIB.

Matahari mulai turun, mengubah langit menjadi kanvas oranye yang dramatis. Cahaya emas itu memantul di permukaan air yang mulai surut, membuat siluet perahu nelayan terlihat seperti lukisan.

Keramaian di sekitarku berubah fase.

Anak-anak kecil mulai diseret pulang oleh ibunya, menangis karena belum puas main pasir. Gazebo di sebelahku kini diisi sekelompok ibu-ibu sanggar senam yang baru selesai latihan. Mereka ribut mengatur posisi wefie, tertawa keras-keras dengan pose tangan membentuk simbol love korea.

"Satu... dua... cisss!"

Tawa mereka renyah. Tanpa beban. Tanpa rahasia.

Aku melirik jam di sudut layar laptop.

17.45.

Lima belas menit lewat.

Aku membuka Signal.

Chat terakhirku: Saya sudah di lokasi, Pak.

Status: Centang satu.

Belum masuk.

Kecemasan mulai merayap. Tapi anehnya, aku tidak cemas dia membohongiku. Otakku---addiction brain itu---langsung menyusun skenario pertahanan:

Pasti baterainya habis. Atau sinyalnya hilang di jalan.

Atau... Tika.

Nama itu membuat perutku mulas.

Jangan-jangan Tika menahan dia di pintu? Jangan-jangan Tika curiga kenapa dia bawa laptop sore-sore?

Ya Tuhan, semoga dia aman.

Lihat betapa rusaknya logikaku. Aku duduk sendirian di sini, mempertaruhkan reputasiku, berbohong pada teman-temanku, tapi yang aku khawatirkan adalah keselamatan laki-laki yang membiarkanku menunggu.

Aku me-refresh Signal. Lagi.

Masih centang satu.

---

18.15 WIB

Adzan Magrib berkumandang dari Masjid Al-Ihram di seberang jalan.

Suaranya meliuk-liuk indah, memanggil orang-orang untuk pulang, untuk bersujud.

Langit berubah ungu gelap, lalu dengan cepat menjadi hitam pekat. Lampu-lampu taman mulai menyala, tapi cahayanya remang-remang, kalah oleh kegelapan laut.

Lihat selengkapnya