Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #16

Bara Kembar

Senin pagi masih belum punya wajah. Langit di luar gedung Bappeda berwarna abu-abu putih, seperti lembaran kertas kosong yang belum diberi tinta. Aku memarkirkan motorku di slot paling pojok---kebiasaan yang kubentuk sejak bulan pertama: jauh dari kerumunan, jauh dari mata-mata yang terlalu peduli. Helm masih digantung di stang saat aku menatap gedung kantor itu. Kaca-kacanya mengkilat seperti bola mata yang sadar betul siapa yang keluar, siapa yang masuk, jam berapa, dan dengan ekspresi apa.

Akuarium.

Pak Suroso bilang kami ikan. Aku mulai curiga dia benar.

Kaki melangkah melewati gerbang, melewati pos satpam yang mengangguk tanpa tersenyum, melewati tangga yang lantainya sudah kusam tapi licin karena pel berlebihan. Di dalam, aroma kopi dari kantin bercampur dengan bau sabun cuci tangan dari toilet depan---aromanya institusional, berulang, aman.

Tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda.

Mobil Zarimuddin sudah terparkir.

Aku berhenti di depan lobby, menatap sedan hitamnya yang biasanya baru datang jam sembilan. Sekarang jam tujuh lewat lima belas. Pria itu datang satu setengah jam lebih awal. Dan aku tahu persis ini bukan karena rapat mendadak.

Dia menungguku.

Aku menarik napas, merapikan jilbab hijau army yang pagi ini kupakai, lalu melangkah masuk.


Kubikelku terletak di area tengah ruang terbuka Bidang Sosbud, berhadapan langsung dengan meja Dian yang masih kosong. Kursinya belum ditarik. Monitor masih mati. Jam digital di dinding menunjuk pukul 07.17. Orang-orang baru akan datang setengah delapan.

Aku menyalakan komputer, membuka file dashboard stunting yang belum selesai---ratusan baris data dari Dinkes, layer peta dari Ferdi yang masih saling tumpang tindih error. Pekerjaan ini akan memakan waktu berhari-hari. Mungkin berminggu-minggu.

Tapi aku tidak bisa fokus.

Dari sudut mata, aku melihat sosok itu keluar dari ruang kaca Kabid.

Zarimuddin.

Langkahnya panjang, santai. Kemeja lengan panjang putih yang digulung sampai siku---gaya khasnya saat dia merasa in control. Tangannya memegang gelas kopi hitam dari termos pribadinya. Rambutnya sedikit berantakan, seperti dia belum sempat ke barbershop bulan ini. Uban di pelipis kanannya lebih jelas kelihatan di bawah lampu neon kantor.

Dia tidak menoleh ke arahku.

Tapi aku tahu dia tahu aku ada di sini.

Dia melewati kubikelku. Sepuluh langkah. Lima langkah. Tiga. Satu.

Anggukan.

Singkat. Tajam. Tanpa senyum.

Matanya mengunci tatapanku selama setengah detik---cukup untuk mengatakan: Aku tahu kamu datang pagi ini karena kamu tahu aku akan datang pagi ini.

Lalu dia berlalu, kembali ke ruangannya.

Aku memaksa diriku untuk kembali menatap layar. Jantungku berdebar seperti orang yang baru lari sprint. Fuck. Ini baru jam tujuh pagi, Rania. Kendalikan dirimu.

Tapi sudah terlambat.

Tanganku bergerak sendiri, membuka aplikasi email. Masuk ke kotak pesan. Mengklik pesan terakhir darinya---yang dikirim Jumat sore, subject: Dashboard Stunting - Revisi Zona Biru.

Isinya teknis. Formal. Tidak ada yang aneh.

Tapi aku tidak membacanya untuk mencari informasi.

Aku membacanya karena aku kangen suaranya.


Pukul 08.45.

Kantor mulai ramai. Suara sepatu berderap, tawa kecil dari pantry, printer yang mencetak dokumen dengan bunyi ngiiik-tak-tak-tak. Dian datang terlambat seperti biasa, mukanya kusut, dia langsung melempar tas ke meja tanpa menyapaku dulu. Kami masih dalam fase jarak aman sejak insiden Sijuk.

Aku mencoba fokus ke data.

Tapi dari sudut mata, aku melihat Zarimuddin keluar lagi dari ruangannya. Kali ini dia berjalan ke arah... kubikelku.

Langsung.

Tidak pura-pura lewat dulu.

Jantungku mencelos.

Dia berhenti tepat di partisi kubikelku. Berdiri di sana dengan satu tangan di saku celana kain, satu tangan memegang ponsel. Ekspresinya datar. Profesional. Tapi ada kilat kecil di matanya yang hanya bisa kubaca karena aku sudah terlalu lama mengamatinya.

"Dashboard stunting," katanya tanpa basa-basi. Suaranya rendah, tapi cukup keras agar orang di sekitar bisa dengar. "Sudah cek ulang zona merah belum? Kemarin ada duplikasi nama posyandu di file Dinkes."

Aku mendongak, memasang ekspresi staf teladan. "Sudah, Pak. Saya filter manual tadi pagi. Tinggal finalisasi visualisasi."

"Bagus." Dia mengangguk. "Jam sepuluh nanti kita bahas di ruangan. Bawa laptop."

"Siap, Pak."

Dia tidak langsung pergi. Dia diam satu detik lebih lama---cukup untuk membuat Dian di sebelahku menoleh dengan alis terangkat. Cukup untuk membuat staf lain yang kebetulan lewat melirik.

Lalu dia berbalik dan kembali ke ruangannya.

Aku kembali menatap layar. Tanganku gemetar sedikit saat mengklik mouse.

Dian menatapku dengan tatapan bertanya. "Lu kenapa sih pagi-pagi udah meeting sama Kabid?"

"Proyek stunting," jawabku singkat. "Deadline Senin depan."

"Oh." Dian kembali ke layarnya. Tapi aku tahu dia tidak percaya seratus persen.


Pukul 09.30.

Sticky note muncul di monitorku.

Aku tidak melihat siapa yang menaruhnya. Tapi aku tahu tulisan tangan itu.

> Dashboard stunting perlu final check. Bisa dibantu?

> --- Z

Inisial. Hanya huruf Z. Seperti kode rahasia anak SMP yang kirim surat cinta lewat teman sebangku.

Aku menatap kertas kecil berwarna kuning itu. Jantungku berdegup tidak teratur.

Lihat selengkapnya