Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #20

Delegasi Gabungan

Senin pagi itu, atmosfer di kantor terasa aneh. Ada kasak-kusuk yang tidak biasa di area kubikel Bidang PPE---wilayah kekuasaan Pramono.

Sejak keberhasilan presentasi dashboard stunting minggu lalu, Pak Kaban memang sempat menyinggung soal "validasi nasional". Beliau ingin inovasi ini dipamerkan ke Bappenas pusat agar Belitung Utara dapat insentif daerah.

Waktu itu, Zarimuddin dengan semangat berapi-api bilang ke aku, "Nia, kita akan bawa ini ke Jakarta. Saya akan pastikan kamu yang presentasi di depan Direktur Bappenas."

Itu janji manisnya sebelum drama akhir pekan kemarin.

Namun pagi ini, saat aku berjalan melewati ruang Pak Kaban, aku melihat Pramono baru saja keluar dari sana. Wajahnya cerah, langkahnya ringan, dan di tangannya ada map biru yang dipeluk erat. Ia tersenyum padaku---senyum predator yang baru saja kenyang.

"Pagi, Nia. Siap-siap ya," sapanya penuh teka-teki sambil berlalu.

Aku mengernyit. Siap-siap apa?

Firasatku tidak enak. Zarimuddin baru datang lima belas menit kemudian dengan wajah kusut sisa pertengkaran akhir pekan. Dia bahkan belum sempat meletakkan tasnya ketika Mbak Yanti dari tata usaha menghampiri mejaku.

Aku sedang merapikan data Excel "Indikator Stunting" ketika staf administrasi umum itu menyodorkan map biru.

"Mbak Rania, ini SPT ke Jakarta lusa. Tolong cek NIP dan gelarnya ya, takut salah ketik. Soalnya mau langsung dimintakan tanda tangan Pak Kaban," kata Mbak Yanti sambil meletakkan map itu di atas tumpukan berkasku.

Jantungku berdesir. Jakarta. Akhirnya.

Dengan senyum tertahan, aku membuka map itu. Mataku langsung menyapu lampiran surat yang berisi daftar nama personil.

DAFTAR PEGAWAI YANG DITUGASKAN:

1. PRAMONO, S.E., M.M. - Kepala Bidang Infrastruktur & Kewilayahan

2. RANIA ALFIANSYAH, S.AP - Analis Kebijakan Ahli Pertama

Senyumku lenyap. Aku membalik kertas itu, mencari halaman lain. Siapa tahu ada lembar kedua. Tidak ada. Hanya tiga nama.

Nama Zarimuddin tidak ada.

"Mbak?" panggilku pada Mbak Yanti yang sudah berbalik hendak pergi. "Ini... Pak Zarimuddin nggak ikut?"

Mbak Yanti berhenti, menoleh dengan wajah polos. "Enggak, Mbak. Tadi Pak Pramono sudah menghadap Pak Kaban. Katanya Pak Zar harus stand by buat rapat Banggar minggu ini. Jadi Pak Pramono yang pimpin rombongan Bappeda, gabung sama rombongan Kominfo."

Darahku terasa dingin.

Lihat selengkapnya