Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #21

Tiga Hari di Jakarta

Udara Jakarta menyambutku dengan tamparan panas dan kepulan asap knalpot saat kami keluar dari Bandara Soekarno-Hatta. Kota ini bergerak terlalu cepat, terlalu bising, seolah tidak memberikan ruang bagi siapa pun untuk sekadar mengambil napas.

Kami berempat berada di dalam satu taksi bandara besar menuju Ibis Jakarta Senen. Di kursi depan, Pramono duduk di samping sopir, sesekali memberi instruksi jalan. Di baris tengah, Pak Agus berbincang ringan tentang kemacetan. Aku duduk di baris paling belakang, bersebelahan dengan Bu Ratna yang sejak tadi diam, menatap ke luar jendela dengan kacamata hitamnya.

Aura Bu Ratna membuatku merasa seolah aku sedang duduk di sebelah mesin X-ray.

Setibanya di lobi hotel, hierarki birokrasi langsung terlihat telanjang di meja resepsionis.

"Untuk Pak Agus dan Bu Ratna, kamar tipe Superior di lantai lima belas sudah siap," kata Pramono sambil membagikan kartu akses. Suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar seperti koordinator yang melayani atasannya. "Pemandangannya langsung ke Monas."

"Dan kamar kita, Pak Pram?" tanyaku hati-hati.

"Saya ambil dua kamar Standard di lantai delapan. Nomor 806 dan 808. Bersebelahan," Pramono tersenyum padaku. Senyum bapak-bapak yang terlalu ramah. "Untuk efisiensi. Biar gampang kalau ada koordinasi materi mendadak."

Pak Agus mengangguk-angguk tanpa curiga. "Bagus itu, Pram. Biar Rania gampang kalau butuh arahan teknis."

Namun, di sebelahku, Bu Ratna mendengus pelan. Sangat pelan hingga hanya aku yang bisa mendengarnya.

Wanita paruh baya itu menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Pramono dari atas ke bawah, lalu beralih menatapku. Tatapannya dingin, menguliti, dan menyiratkan satu kalimat tak terucap: Kamu benar-benar bodoh kalau mau masuk ke perangkap murahan ini.

Aku menelan ludah, refleks menunduk, menghindari sorot matanya yang seolah tahu semua dosaku di Belitung.

Karena kamar kami baru bisa dimasuki pukul dua siang, Pramono mengarahkan kami untuk makan siang di Solaria Plaza Atrium yang hanya berjarak lima menit jalan kaki.

Begitu kami duduk di meja sudut, Pramono langsung mengambil alih kendali. Ia bertingkah seolah aku ini anak remaja yang tidak tahu cara memesan makanan sendiri.

"Biar saya yang pesankan. Nia, kamu suka apa? Ayam goreng mentega atau seafood?" tanyanya sambil menarik buku menu dari tanganku. Jarak duduknya sengaja ia persempit. "Di sini chicken cordon bleu-nya enak. Atau kamu mau coba yang lain? Biar saya yang urus."

Aku tertawa canggung, menarik tubuhku sedikit ke belakang karena wangi parfumnya terlalu dekat. "Samakan saja dengan Bapak, tidak apa-apa."

"Minumnya? Es teh manis atau mau jus? Kamu kelihatan pucat, Nia. Jus alpukat saja ya, biar segar," lanjut Pramono, setengah bersandar ke arahku. "Kamu ini anak muda harus pintar bergaul dan jaga kesehatan."

Pak Agus yang sedang mengecek ponselnya hanya tersenyum maklum, mengira ini murni kebaikan seorang senior pada CPNS baru.

Namun, Bu Ratna yang duduk di seberangku melipat tangan di dada. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Pramono.

"Pak Pramono ini perhatian sekali ya sama CPNS," suara Bu Ratna memecah suasana. Berat, serak, dan tanpa nada bercanda sedikit pun.

Pramono menoleh, senyumnya sedikit tertahan. "Ah, biasa, Bu. Namanya juga bawa anak orang ke ibu kota. Harus dijaga."

"Oh, saya kira memang tabiatnya begitu," balas Bu Ratna santai, tapi matanya memancarkan sinisme mematikan. "Dulu, waktu muda, sama istri di rumah sedetail ini juga nggak, Pak? Sampai jus alpukat saja dipilihin. Jangan-jangan istri Bapak di rumah makan cuma pakai lauk sisa karena suaminya sibuk ngurusin gizi anak orang lain di Jakarta."

Hening sejenak. Suara denting garpu dari meja sebelah terdengar nyaring.

Pramono mati kutu. Wajahnya memerah padam. Senyum ramahnya lenyap seketika, digantikan oleh rahang yang mengeras. Ia pura-pura memanggil pelayan dengan terburu-buru untuk menyembunyikan rasa malunya.

Pak Agus tertawa canggung, berusaha mencairkan suasana. "Bu Ratna ini kalau bercanda suka tajam, Pram. Jangan diambil hati."

Bu Ratna tidak tertawa. Dia menatapku. Tatapannya bukan tatapan pahlawan yang baru saja menyelamatkanku, tapi tatapan seorang hakim yang sedang menilai pesakitan. Aku merasa ditelanjangi.

Makan siang itu terasa seperti mengunyah pasir.

Selesai makan, kami berkeliling mal sebentar sambil menunggu waktu check-in.

Di depan sebuah toko suvenir, mataku tertuju pada boneka beruang kecil berpakaian kaus bertuliskan "I Love Jakarta". Aku mengambilnya sekadar untuk melihat harga, namun tiba-tiba sebuah tangan dengan jam tangan stainless terulur melewatiku.

Pramono sudah mengeluarkan dompet kulitnya. "Biar saya yang bayar. Anggap saja welcome gift ke Jakarta."

Suaranya rendah. Jarak kami terlalu dekat.

Instingku berteriak. Aku teringat semua bantuan "gratis" Zarimuddin yang ternyata menuntut bayaran mahal. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dengan menumpuk hutang budi pada laki-laki ini.

Lihat selengkapnya