Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #22

Panggung dan Topeng

Pagi itu aku bangun dengan kepala yang berdenyut dan mata bengkak. Sisa tangisan semalam masih terasa seperti pasir di kelopak mata. Cahaya matahari Jakarta yang kejam menerobos masuk dari celah tirai, memaksaku menghadapi realita bahwa aku masih terjebak di sini. Di kamar 806. Bersebelahan dengan predator itu.

Aku meraih ponsel yang tergeletak di karpet. Sudah pukul tujuh. Aku harus segera bersiap untuk ke Bappenas.

Saat aku menyalakan layar, notifikasi Signal muncul. Pesan masuk pukul 06.00 pagi. Dari Zarimuddin.

Jantungku berdebar. Apakah dia marah karena aku membentaknya semalam? Apakah dia akan mendiamkanku?

Aku membuka pesan itu dengan ragu.

Zarimuddin: Maaf semalam saya terlalu keras. Saya cuma khawatir. Kamu berhak marah.

Zarimuddin: Tapi hari ini panggung kamu, Nia. Jangan biarkan emosi semalam merusak kerja kerasmu berbulan-bulan. Tunjukkan pada orang Pusat siapa arsitek data Belitung Utara yang sebenarnya. You've got this. Trust yourself.

Aku membaca pesan itu dua kali. Tiga kali.

Mataku memanas lagi. Brengsek. Laki-laki ini tahu persis cara melunakkan hatiku. Dia menyingkirkan egonya, meminta maaf, dan memberiku validasi profesional yang paling kubutuhkan saat ini. Marahku menguap seketika, digantikan oleh rasa bersalah karena sudah membentaknya. Dia cuma khawatir, bisik otak bucinku yang bodoh. Dia peduli.

Aku mengetik balasan singkat, menekan semua gejolak perasaan itu.

Aku: Terima kasih, Pak. Doakan lancar.

Aku meletakkan ponsel di dada, menarik napas panjang. Oke. Zarimuddin percaya padaku. Aku tidak boleh hancur sekarang. Aku harus memakai topeng terbaikku.

Gedung Bappenas menjulang tinggi, dingin dan mengintimidasi. Kami diarahkan ke ruang rapat di lantai 12. Meja oval besar dikelilingi kursi ergonomis menghadap layar proyektor raksasa.

Tim dari Pusat---Direktur SDI dan beberapa tenaga ahli---sudah menunggu. Mereka terlihat seperti orang-orang pintar yang tidak punya waktu untuk basa-basi.

"Silakan, Tim Belitung Utara," kata Pak Direktur ramah tapi tegas.

Pramono membuka presentasi dengan gaya khas pejabat: penuh jargon, diplomatis, tapi kosong substansi. "Kami berkomitmen... sinergitas... kolaborasi..."

Lima menit kemudian, Pak Direktur mulai mengetuk-ngetukkan pena. Bosan.

"Bisa langsung ke teknis? Bagaimana integrasi datanya?" potong beliau.

Pramono terdiam sejenak, senyumnya sedikit kaku. Dia menoleh padaku. "Silakan, Rania. Sampaikan teknisnya."

Inilah saatnya. Aku berdiri, menghubungkan laptopku.

Begitu grafik interaktif itu muncul di layar---peta sebaran stunting yang di-overlay dengan data sanitasi---suasana ruangan berubah. Para tenaga ahli yang tadinya bersandar malas kini menegakkan punggung.

"Ini data real-time?" tanya salah satu ahli.

"Di-update setiap tanggal 25, Pak. Bersumber dari bidan desa," jawabku mantap. Suaraku tidak bergetar. Di depan data, aku berkuasa. Aku bukan Rania yang menangis di kamar hotel. Aku adalah analis yang kompeten.

Selama satu jam ke depan, aku menjawab semua pertanyaan teknis. Algoritma, cleaning data, integrasi API. Aku melihat Pak Agus Kominfo mengangguk-angguk bangga. Aku melihat Bu Ratna---yang duduk di ujung meja---menatapku. Tidak ada senyum di wajahnya, tapi anggukan kecilnya adalah pengakuan tertinggi. Dia tahu aku menguasai materi ini.

Lihat selengkapnya