Aku masih duduk memeluk lutut di lantai karpet, punggung menempel pada pintu yang terkunci rapat. Suara-suara dari kamar 808 sudah mereda, digantikan oleh keheningan yang jauh lebih mencekam. Imajinasi liarku mengisi kekosongan itu dengan gambar-gambar yang membuat perutku mual.
Pramono. Atasan yang tadi siang bicara soal integritas data, sekarang sedang melakukan hal menjijikkan di balik dinding tipis ini.
Aku merasa kotor. Aku merasa tidak aman. Hotel bintang tiga di Jakarta Pusat ini tiba-tiba terasa seperti hutan belantara yang gelap.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel. Aku butuh suara yang waras. Aku butuh seseorang yang memberitahuku bahwa aku tidak gila karena merasa takut.
Jariku membuka Signal. Nama Zarimuddin ada di paling atas.
Logika melarangku. Ini sudah jam sebelas malam. Dia suami orang. Dia di rumah bersama istrinya.
Tapi rasa takut dan jijik mengalahkan logika. Aku mengetik satu huruf. Kode universal generasi kami untuk bertanya: Are you there?
Aku: P
Satu detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Ponselku bergetar. Panggilan video masuk via Signal.
Zarimuddin.
Aku panik. Aku belum memakai jilbab. Rambutku masih basah sehabis mandi tadi, handuk kecil masih tersampir di leher. Tapi aku tidak peduli. Aku butuh melihat wajah yang aman.
Aku menggeser tombol hijau.
Wajah Zarimuddin muncul di layar. Dia berada di ruang kerjanya di rumah, latar belakang rak buku yang remang-remang. Wajahnya tegang, matanya langsung membelalak saat melihatku.
"Nia?" suaranya rendah, nyaris berbisik. "Kenapa? Kamu oke?"
Dia melihat rambutku yang basah dan berantakan. Dia melihat mataku yang bengkak.
"Pak..." suaraku pecah. "Bapak benar."
"Benar soal apa?"
"Pramono," bisikku, air mata mulai menetes lagi. "Ada perempuan di kamarnya. Saya dengar suaranya. Dindingnya tipis, Pak. Saya takut."
Zarimuddin memejamkan mata. Rahangnya mengeras. Aku melihat tangannya mengepal di atas meja.
"Bajingan," desisnya pelan. "Sudah kuduga dia tidak akan berubah."
"Saya merasa bodoh, Pak," isakku. "Tadi siang saya pikir dia baik. Saya pikir dia cuma mau ngajarin saya. Ternyata..."
"Nia, lihat saya."
Aku menatap layar. Mata Zarimuddin menatapku dengan intensitas yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan tatapan atasan, bukan tatapan mentor. Itu tatapan seorang pelindung yang marah.