Apel Senin pagi di halaman Bappeda selalu terasa seperti teater kemunafikan, tapi hari ini pertunjukannya terasa jauh lebih komikal di mataku.
Pramono berdiri di depan barisan, mewakili Kepala Badan yang sedang dinas luar. Kemeja Korpri-nya disetrika licin sempurna, peci hitam bertengger tegak di kepalanya. Suaranya menggema lewat pelantang suara, mengiris udara pagi yang mulai memanas.
"Integritas adalah marwah kita sebagai abdi negara," pidato Pramono, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar berwibawa dan suci. "Jangan sampai godaan-godaan sesaat di luar sana merusak nama baik instansi dan keluarga kita di rumah. ASN harus menjadi contoh moral di tengah masyarakat."
Aku berdiri di barisan staf, menatap lurus ke arahnya. Perutku bergejolak. Rasa mual yang sama seperti saat aku bersembunyi di lantai kamar mandi hotel kembali naik ke kerongkongan.
Moral.
Kata itu meluncur dari bibir laki-laki yang parfumnya bercampur dengan bau peluh perempuan bayaran di kamar 808. Laki-laki yang menggunakan kedok "bimbingan" untuk mencoba merangsek masuk ke kamarku.
Aku tidak lagi merasa takut seperti saat di Jakarta. Rasa takut itu telah menguap, digantikan oleh kemarahan yang dingin dan mengkristal. Aku menatap Pramono bukan lagi sebagai predator yang tak tersentuh, melainkan sebagai target yang memiliki titik buta. Dia pikir dia bisa menekan Zarimuddin dan menjadikanku mainannya. Dia salah.
Aku kembali dari Jakarta membawa senjata, dan aku tahu persis bagaimana cara menggunakannya tanpa harus mengotori tanganku sendiri.
Siang itu, aku mengajak Dian makan di kantin belakang kantor. Sengaja memilih meja di sudut yang agak tersembunyi.
"Gimana Jakarta, Ra? Pamer dong, masa ke Bappenas nggak ada cerita seru?" tagih Dian sambil mengaduk es teh manisnya. "Pak Pramono rese nggak? Pak Agus pasti baik banget kan ngemong kamu?"
Aku menunduk, mengaduk-aduk kuah soto di mangkukku dengan pelan. Aku mengatur raut wajahku-sedikit pucat, mata yang menghindari kontak langsung, dan bahu yang merosot. Postur sempurna seorang korban yang trauma.
"Jakarta... seru sih, Yan. Cuma..." Aku menggigit bibir bawahku, membiarkan kalimatku menggantung.
Dian yang insting gosipnya setajam radar militer, langsung berhenti mengaduk es tehnya. Dia mencondongkan tubuh ke depan.
"Cuma apa, Nia? Ada yang nggak beres?" suaranya turun satu oktaf.
Aku menarik napas panjang, berpura-pura ragu. "Aku nggak tahu harus cerita ke siapa, Yan. Aku masih agak... shock."
"Astaga, kenapa?! Pak Pram macam-macam sama lo?!" Mata Dian membelalak panik.
"Enggak, enggak ke aku secara fisik," buru-buru aku meralat, menjebaknya masuk lebih dalam ke alur ceritaku. "Cuma, pas malam terakhir, aku baru pulang jalan-jalan sama Pak Agus. Pak Pramono nggak ikut, katanya pamit mau reuni sama teman kuliah laki-laki."
"Terus?"