Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #25

Perang Dingin dan Lingkaran Hijau

Udara di akuarium Bappeda terasa berbeda minggu ini. Lebih sejuk bagiku, lebih pengap bagi yang lain.

Kudeta senyapku terhadap Pramono berjalan sukses. Setelah bisikan beracun yang kusebar lewat Dian merayap dari kubikel ke kubikel, wibawa Pramono runtuh perlahan. Staf perempuan kini menjaga jarak darinya. Aku mengamatinya dari mejaku saat ia berjalan melewati mesin fotokopi dengan wajah muram. Tidak ada rasa bersalah di dadaku. Hanya ada kepuasan yang dingin. Akuarium ini sekarang adalah wilayahku, dan aku telah membersihkan airnya dari predator.

Tapi, ada satu orang lagi yang masih bebas berenang di luar sana. Tika.

Siang itu, saat sedang beristirahat sambil menunggu data dari BPS, aku membuka Instagram. Di halaman explore, algoritma menyodorkan sebuah postingan dari akun pribadi Tika. Ia tidak menguncinya.

Itu foto kegiatan Dharma Wanita tadi pagi. Tika berdiri di depan audiens ibu-ibu PKK, memegang mikrofon dengan senyum anggun dan keibuan. Caption-nya lumayan panjang:

> "Sosialisasi Ketahanan Keluarga DWP Bappeda hari ini. Mengingatkan kembali betapa pentingnya figur dan bimbingan seorang Ibu. Anak perempuan yang jauh dari pengawasan keluarga sangat rentan kehilangan arah dan mencari validasi di tempat yang salah. Mari bentengi keluarga kita dengan nilai moral yang kuat."

Darahku mendidih seketika membaca rentetan kalimat itu.

Bagi orang awam, itu hanyalah pesan edukasi standar dari seorang istri pejabat. Tapi bagiku? Itu adalah deklarasi perang terbuka.

Anak perempuan yang jauh dari pengawasan keluarga. Mencari validasi di tempat yang salah.

Dia menyindirku! Wanita ini benar-benar ular berbisa. Dia tahu aku anak rantau. Dia tahu ibuku jauh di Jawa. Dia sengaja menggunakan panggung DWP-nya untuk menelanjangiku di depan publik, membingkaiku sebagai gadis menyedihkan yang kurang kasih sayang dan mencari figur ayah dari suaminya!

Napasku memburu. Kilasan memori tempo hari berkelebat kasar di kepalaku. Saat ia datang membawa rantang rendang ke kantor, meletakkannya di mejaku, dan tersenyum dengan mata sedingin es. "Titip diingatkan ya, Mbak Rania. Kan Mbak Rania yang mejanya paling dekat."

Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia membawa-bawa ibuku ke dalam urusan ini! Dia pikir, hanya karena dia punya ikatan legal di atas kertas, dia bisa merendahkan mentalku sesuka hati?

Tidak lagi, batinku, meremas ponselku kuat-kuat. Sekarang aku yang memegang kendali. Harusnya hanya aku yang mengendalikan hidupku sendiri. Hanya aku yang menguasai Zarimuddin.

Tanganku bergerak lincah membuka galeri ponsel, mencari sebuah file di folder tersembunyi. Sebuah rekaman layar berdurasi sepuluh detik.

Rekaman dari malam kedua di Jakarta. Malam di mana aku ketakutan mendengar suara perempuan dari kamar Pramono, dan Zarimuddin menemaniku lewat video call sampai aku tertidur.

Di video itu, aku tidak memakai jilbab. Rambutku masih basah sehabis keramas. Tapi aku tidak bodoh. Aku menggunakan aplikasi editing untuk mem-blur total bagian wajah dan rambutku sendiri hingga hanya menjadi siluet samar. Sebaliknya, aku membiarkan bagian layar yang menampilkan wajah Zarimuddin tetap utuh. Meskipun latar belakangnya adalah ruang kerjanya yang remang-remang, wajah lelahnya yang sedang menatap layar dengan penuh perhatian itu terlihat jelas.

Bagi orang asing, itu mungkin hanya siluet pria tak dikenal. Tapi bagi seorang istri yang telah tidur di sampingnya selama dua puluh tahun? Tika pasti mengenali setiap lekuk rahang dan sorot mata suaminya dalam gelap.

Aku membuka aplikasi WhatsApp. Masuk ke menu Status.

Jariku bergerak cepat menuju pengaturan privasi.

Lihat selengkapnya