Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #26

Reruntuhan yang Dinanti

Aku datang ke kantor keesokan paginya dengan langkah seringan kapas. Sepanjang malam, aku tidur dengan nyenyak. Di kepalaku, skenario kehancuran rumah tangga Zarimuddin berputar seperti film yang memuaskan. Aku membayangkan Tika berteriak histeris melihat video itu, melempar barang, dan menuntut penjelasan. Aku membayangkan Zarimuddin akhirnya muak dengan drama domestik itu, lalu menyadari bahwa satu-satunya tempat yang menerimanya hanyalah aku.

Aku duduk di kubikel, menyalakan komputer, dan menatap pintu kaca ruangan Kepala Bidang. Pukul 09.00, pintu utama lobi Bappeda terbuka.

Zarimuddin masuk.

Senyum yang sudah kusiapkan perlahan luntur. Penampilannya... hancur. Kemejanya kusut, matanya merah dan berkantung tebal, postur tubuhnya yang biasanya tegap dan karismatik kini merosot seolah ia memikul beban berton-ton di pundaknya.

Dia berjalan melewati kubikelku tanpa menoleh, masuk ke ruangannya, dan menutup pintu. Tirai blinds langsung ditarik turun. Tertutup rapat.

Sepuluh menit kemudian, interkom di mejaku berbunyi.

"Ke ruangan saya." Suaranya parau, nyaris seperti geraman yang tertahan.

Aku mengambil buku catatan sebagai alibi, lalu melangkah ke ruangan itu. Jantungku berdebar. Ini saatnya. Dia akan bersandar padaku.

Namun, begitu aku melangkah masuk, Zarimuddin langsung mendesis tajam.

"Tutup pintunya. Kunci."

Aku baru saja memutar kenop pintu ketika sebuah gebrakan keras menghantam meja kaca di belakangku.

Brak!

Aku terlonjak kaget. Zarimuddin berdiri dengan kedua tangan menumpu di atas mejanya, menatapku dengan mata merah yang menyala oleh amarah, ketakutan, dan kepanikan luar biasa.

"Apa yang ada di kepalamu, Rania?!" bentaknya tertahan, urat di lehernya menonjol. "Video itu?! Kau mem-posting video malam itu?!"

Aku memasang wajah terkejut dan bingung yang sudah kulatih semalaman. "Maksud Bapak? Status WA saya?"

"Jangan pura-pura bodoh!" Zarimuddin mengusap wajahnya kasar, mondar-mandir di belakang mejanya seperti singa yang terperangkap. "Foto tanganku! Dan video sleepcall itu! Video di mana kau tidak memakai hijabmu malam-malam dan wajahku terlihat jelas! Kita susah-payah pindah ke Signal, bersembunyi seperti buronan supaya tidak ada jejak, dan kamu... kamu malah memajang bukti paling mematikan itu di WhatsApp?!"

"Pak, astaga," aku menutup mulutku dengan kedua tangan, memproyeksikan kepanikan palsu. "Saya memang posting itu kemarin malam karena saya kangen, tapi itu... itu cuma untuk Close Friend saya! Teman-teman dekat saja. Ya Tuhan, apa saya salah setting privasi?"

"Salah setting privasi?!" Zarimuddin tertawa getir, tawa yang terdengar seperti orang putus asa yang baru dijatuhi hukuman mati. "Kesalahan setting privasimu itu baru saja menamatkan hidupku, Nia! Tika melihatnya. Dia melihat semuanya!"

Aku menahan napas, menyembunyikan euforia yang mendesak naik ke dada. Kerja bagus, Rania.

Lihat selengkapnya