Udara di Bappeda siang itu tidak terasa seperti udara, melainkan seperti air rawa yang pekat dan beracun.
Setelah postingan @ASNumbies itu menyebar ke setiap ponsel di gedung ini, akuariumku resmi berubah menjadi ruang eksekusi. Tidak ada lagi bisik-bisik yang disembunyikan. Kini, tatapan mata mereka menelanjangiku secara terang-terangan. Setiap ketukan sepatuku di lantai keramik seolah bergema menggantikan suara palu godam.
Pukul 14.00, dering telepon di meja kerjaku memecah keheningan yang mencekik.
Aku mengangkat gagangnya dengan tangan sedingin es.
"Rania," suara Ibu Ida, Sekretaris Badan, terdengar datar tanpa nada. "Bapak Kepala Badan menunggu di ruangannya. Sekarang."
Klik. Telepon ditutup bahkan sebelum aku sempat menjawab.
Aku berdiri perlahan. Kakiku terasa seperti terbuat dari jeli. Dian, yang duduk di kubikel sebelah, menatapku dengan mata membelalak penuh ketakutan. Dia tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapannya menyiratkan doa duka cita.
Aku melangkah melewati lorong panjang menuju ruang Kepala Badan. Rasanya seperti melakukan walk of shame. Setiap pasang mata mengintaiku dari balik partisi. Aku menunduk, meremas ujung map kosong yang kubawa sekadar sebagai tameng fisik.
Saat aku membeku di tengah lorong, sebuah bayangan besar menghalangi jalanku.
Pak Suroso.
Lelaki tua itu sedang memegang gagang sapu, tapi matanya menatapku lurus. Tidak ada penghakiman di sana. Hanya ada kebijaksanaan yang pahit dan rasa kasihan yang tulus.
"Tegakkan kepalamu, Nduk," bisiknya parau, nyaris tak terdengar oleh yang lain. "Ikan yang menunduk di akuarium cuma akan mati dimakan temannya sendiri. Tegakkan kepalamu."
Aku menelan ludah yang terasa seperti beling, lalu mengangkat daguku sedikit. "Terima kasih, Pak."
Aku melanjutkan langkah, mengetuk pintu kayu jati yang tebal itu, lalu membukanya.
Udara di dalam ruangan Pak Kaban, Pak Harsono, dua derajat lebih dingin dari luar. Di balik meja kebesarannya, pria berkumis tipis itu duduk dengan postur tegak yang mengintimidasi.
Namun, yang membuat napasku tertahan adalah siapa yang duduk di dua kursi tamu di hadapannya.
Zarimuddin dan Pramono.
Pramono duduk dengan punggung tegak, wajahnya tenang, menyembunyikan kepuasan di balik topeng keprihatinan seorang birokrat. Sementara Zarimuddin... dia terlihat hancur. Bahunya merosot, matanya menatap kosong ke pola karpet di bawah sepatunya. Dia tidak menoleh sedikit pun saat aku masuk.
"Duduk, Rania," perintah Pak Harsono. Suaranya rendah, menggelegar.
Aku menarik kursi ketiga, duduk di ujung, menjaga jarak dari mereka berdua.
Sebuah iPad tergeletak di tengah meja Pak Harsono. Layarnya menyala, menampilkan screenshot video sleepcall-ku semalam. Wajahku memang sudah kublur, tapi siapa pun yang mengenalku tahu itu postur tubuhku, dan wajah Zarimuddin terlihat sangat jelas di sudut layar. Di sebelahnya, ada lembaran cetak dari postingan ASNumbies.
"Saya sudah memimpin instansi ini selama sepuluh tahun," Pak Harsono memulai, suaranya dikendalikan dengan sangat hati-hati, yang justru membuatnya terdengar lebih mengerikan. "Saya sudah melihat banyak kebodohan. Tapi kebodohan kalian berdua... ini mencetak rekor baru."
Pak Harsono menatap Zarimuddin dengan jijik.
"Video call? Tanpa hijab? Di jam sebelas malam pakai fasilitas hotel dinas, dan dipamerkan ke status WhatsApp?!" Pak Harsono menggebrak meja, membuatku dan Zarimuddin tersentak. "Kamu pikir ini sinetron, Zarimuddin?! Istrimu datang ke saya pagi tadi membawa video ini, menangis meminta perceraian dan menuntut sidang etik untuk kalian berdua! Kau mau menghancurkan nama baik Pemda?!"
Zarimuddin menelan ludah. "Pak, saya minta maaf. Saya..." suaranya serak, tak berdaya. "Itu murni kesalahan saya. Saya yang meneleponnya. Dia tidak bersalah."
"Jangan berlindung di balik kata-kata pahlawan kesiangan, Zar," potong Pak Harsono tajam. "Karirmu sudah cacat. Istrimu sudah menyebarkan ini ke lingkaran Dharma Wanita. Bupati pasti akan mendengarnya besok. Kamu sudah kehilangan kendali atas rumah tanggamu, dan kamu kehilangan kendali atas akal sehatmu."
Lalu Pak Harsono menoleh padaku. Matanya menyipit, mengulitiku dari luar dan dalam.