Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #28

Pengkhianatan Sang Penyelamat

Pintu kayu mahoni ruangan Pak Kaban tertutup di belakangku dengan bunyi klik yang pelan namun final.

Aku berdiri di koridor Bappeda yang sunyi. Udara dingin dari AC sentral menerpa wajahku yang masih sembap. Di dalam sana, di depan Pak Harsono, aku berhasil menahan diriku agar tidak hancur. Namun kini, setelah vonis mutasi itu dijatuhkan dan aku sendirian di luar, adrenalin yang sejak tadi menopang tubuhku menguap tak bersisa.

Duniaku berputar. Kakiku mendadak terasa seperti jeli, kehilangan tulangnya. Aku terhuyung, menyandarkan sebelah bahu ke dinding koridor yang dingin, bersiap jika tubuhku merosot ke lantai.

Namun, sebelum lututku menyentuh ubin keramik, sebuah tangan yang kasar, hangat, dan kokoh menahan lenganku.

Bayangan besar menghalangi cahaya lampu neon di atasku. Pak Suroso.

Lelaki tua itu berdiri tegak di hadapanku. Ia pasti sudah berdiri di sana, menunggu di luar pintu sejak tadi, mengetahui dengan insting tajamnya bahwa aku akan hancur begitu keluar dari ruangan itu. Tidak ada tatapan menghakimi di matanya yang mulai rabun. Hanya ada sorot teduh seorang bapak yang melihat anak perempuannya terluka.

"Tegakkan kepalamu, Nduk," bisiknya parau, namun penuh wibawa. "Jangan biarkan mereka melihatmu jatuh."

Tanpa banyak bicara, Pak Suroso merangkul punggungku. Rangkulannya canggung tapi sangat kokoh, persis seperti seorang bapak tua yang memapah anaknya agar tidak roboh.

"Ayo. Bapak antar ke mejamu," gumamnya.

Aku mengangguk kaku, membiarkan beliau menuntunku. Ini adalah momennya. The Walk of Shame.

Saat kami berbelok ke area kubikel terbuka, suara ketukan keyboard dan obrolan samar mendadak mati. Akuarium ini membeku. Setiap pasang mata---dari staf administrasi hingga analis senior---mencuri pandang dari balik partisi mereka. Tatapan sinis, kepo, dan menghakimi langsung menghujani kami layaknya panah tak kasat mata.

Namun, panah-panah itu tidak pernah sampai kepadaku. Tubuh besar Pak Suroso yang memapahku menjadi tameng fisik yang luar biasa. Tatapan tajam Pak Suroso menyapu sekeliling, membungkam bisik-bisik yang baru saja hendak lahir. Di bawah perlindungannya, langkahku yang gontai perlahan kembali menemukan ritmenya.

Dari sudut mataku, aku melihat ruang kaca Zarimuddin. Tirai blinds-nya tertutup rapat. Laki-laki yang selalu berjanji melindungiku itu bersembunyi di dalam sana, membiarkanku berjalan dikawal oleh seorang staf senior tua yang dulu sering ia remehkan.

Sesampainya di kubikelku, Pak Suroso melepaskan rangkulannya perlahan.

"Kemasi barangmu dengan tenang, Nduk," pesannya lirih, menepuk pundakku sekali sebelum ia berbalik untuk kembali ke pekerjaannya. "Kamu akan baik-baik saja."

Aku menelan ludah yang terasa seperti beling. "Terima kasih, Pak."

Aku menarik kardus bekas air mineral dari bawah meja, meraih lakban cokelat, dan mulai mengemasi barang-barangku. Aku memasukkan beberapa buku referensi, mug keramikku, dan tumpukan sticky notes yang tak lagi punya arti.

Saat aku bersiap melakban kardus itu, sebuah suara bergetar memecah kesunyian di dekatku.

"Nia..."

Aku menoleh. Dian berdiri di batas kubikelku. Wajah sahabatku itu pucat pasi, nyaris kelabu. Tangannya gemetar hebat saat memegang ponsel. Dia tidak terlihat seperti orang yang sedang takut terkena imbas gosip. Dia terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantu.

"Kenapa, Yan? Santai aja, aku cuma dipindah ke Kominfo kok. Nggak dipecat," kataku pelan, berusaha tersenyum untuk menenangkannya.

Dian menggeleng cepat. Napasnya memburu. Dia melirik ke sekeliling, memastikan tidak ada yang terlalu dekat dengan kami, lalu melangkah masuk ke kubikelku.

Lihat selengkapnya