Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #29

Klarifikasi dan Angin Tanjung Pendam

Minggu pagi di Pantai Tanjung Pendam tidak pernah sunyi. Matahari baru naik setengah jalan, menyebarkan kehangatan yang belum menyengat. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma garam yang pekat bercampur dengan bau dedaunan ketapang kering yang berserakan di sepanjang jalur paving blok.

Aku duduk di atas bibir beton penahan abrasi, mengayun-ayunkan kaki di atas pasir putih. Di seberang sana, Pulau Kalimoa berdiri tegak di tengah laut, tampak seperti gundukan hijau misterius yang mengawasi daratan.

"Tahu gorengnya dimakan dong, Ra. Keburu dingin kena angin laut."

Widya menyodorkan kantong plastik bening berisi tahu goreng dan otak-otak bakar yang mengepulkan asap tipis. Aku mengambil satu, mengunyahnya pelan. Rasanya gurih, kontras dengan rasa pahit yang masih tertinggal di lidahku sejak hari Jumat kemarin.

Semalam, aku menangis sejadi-jadinya di pelukan Widya. Aku menceritakan semuanya---tentang Zarimuddin, tentang mutasiku, dan tentang pengkhianatan Reza. Widya tidak menghakimi. Dia hanya mendengarkan sambil menyodorkan tisu, membuktikan bahwa aku tidak benar-benar kehilangan segalanya.

"Makasih ya, Wid," kataku pelan, menatap lurus ke arah cakrawala. "Kalau nggak ada lo, mungkin gue udah packing koper balik ke Jawa."

"Santai aja," Widya tersenyum lebar. "Nanti kalau gue yang patah hati atau kena musibah birokrasi, gantian gue yang numpang nangis di kosan lo."

Kami tertawa kecil. Tawa yang terasa kering di awal, tapi perlahan berubah menjadi sesuatu yang jujur dan melegakan.

"Eh, itu mereka," Widya menunjuk ke arah jalan setapak.

Aku menoleh. Dian berjalan cepat dengan rahang mengeras, sementara di belakangnya, mengekor seorang pemuda yang biasanya selalu cengengesan tapi kini berjalan menunduk. Reza.

Mereka berdua menghampiri kami. Suasana mendadak kaku. Angin laut seolah berhenti bertiup di sekitar kami.

Reza berdiri di depanku. Dia tidak berani menatap mataku. Tangannya yang memegang helm terlihat gemetar.

Dian tidak membuang waktu. Ia menarik ponselnya dari saku, mengetuk layarnya beberapa kali, lalu menyodorkannya tepat ke depan wajahku.

"Baca, Nia. Dia udah gue paksa lakuin ini jam delapan pagi tadi," kata Dian tegas.

Aku menatap layar ponsel itu. Akun @ASNumbies baru saja mengunggah sebuah postingan baru dengan latar hitam polos.

> KLARIFIKASI ANONIM: Terkait curhatan yang sempat ramai beberapa hari lalu tentang dinamika di sebuah pemda di pulau pariwisata, setelah kami telusuri lebih lanjut, informasi tersebut tidak akurat dan merupakan hasil misinformasi. Tidak ada pelanggaran atau sidang etik. Kejadian yang diposting sebelumnya adalah murni kesalahpahaman. Kami mohon maaf atas kegaduhan yang ditimbulkan dan meminta agar segala fitnah dihentikan.

Aku membaca kalimat itu berulang kali. Bukan perasaan gembira yang muncul, melainkan kelegaan yang terasa sangat berat, seolah sebongkah batu besar baru saja diangkat dari dadaku. Narasi liarnya sudah dipadamkan secara resmi.

"Reza yang nulis drafnya, dia yang maksa adminnya buat takedown postingan lama dan upload yang ini," jelas Dian, suaranya masih menyimpan kemarahan.

Aku mendongak, menatap Reza. Pemuda yang dulu mentraktirku bakso dan selalu mengajakku bercanda di grup Latsar itu kini terlihat seperti pesakitan.

"Nia... aku minta maaf," suara Reza serak dan bergetar. Dia akhirnya berani mengangkat wajahnya. Matanya merah. "Aku nggak pernah berniat menghancurkan kariermu. Sumpah. Aku pikir... aku pikir kalau aku membongkar kelakuan brengsek Zarimuddin, Pak Kaban bakal menghukum dia, dan kamu bisa lepas dari cengkeramannya. Aku cuma mau narik kamu keluar dari sana."

Lihat selengkapnya