Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #30

Runtuhnya Kerajaan

Minggu malam merayap turun perlahan di atas kota Tanjung Pandan. Di kamar kosku yang sempit, aroma pelicin pakaian rasa floral menguar di udara. Aku baru saja selesai menyetrika seragam keki yang akan kukenakan besok pagi.

Besok adalah hari pertamaku di Dinas Kominfo. Babak baru. Akuarium baru.

Kumasukkan beberapa buku catatan baru ke dalam tas, menata perlengkapan alat tulisku dengan presisi yang menenangkan. Pertemuan dengan teman-teman Latsar di Tanjung Pendam siang tadi telah menjernihkan banyak hal. Postingan klarifikasi dari Reza sudah membersihkan namaku di ranah publik. Secara administratif dan sosial, aku telah selamat dari badai Bappeda.

Namun, kedamaian kecil di kamar kosku itu pecah ketika layar ponselku menyala dalam gelap.

Aplikasi Signal. Panggilan suara. Zarimuddin.

Jantungku melonjak ke tenggorokan. Sejak pertemuan canggung di pantai tadi siang, aku tidak menyangka ia akan menghubungiku secepat ini. Tanganku sedikit gemetar saat menggeser tombol hijau ke atas.

"Halo, Pak?" sapaku hati-hati.

Hening. Selama beberapa detik, aku hanya mendengar suara napas yang berat dan serak dari seberang sana. Bukan napas orang yang kelelahan karena berlari, melainkan napas seseorang yang paru-parunya seperti sedang dihimpit batu gilingan.

"Nia..." panggilnya. Suaranya pecah, bergetar, dan terdengar sangat tua. Pria karismatik bersuara bariton yang selalu mendominasi ruang rapat itu telah menghilang tanpa sisa.

"Bapak kenapa? Ada apa?" tanyaku, refleks duduk tegak di tepi kasur.

"Dia pergi, Nia," bisik Zarimuddin. Suaranya nyaris menyerupai rintihan. "Tika pergi."

Udara di sekelilingku seolah tersedot habis, namun anehnya, ada letupan euforia kecil yang beracun meletus di sudut gelap dadaku. Wanita itu menyingkir. Dia menyerah.

"Bapak tenang dulu," kataku, memaksakan nada suaraku agar terdengar suportif dan rasional, menekan ego kemenanganku sendiri. "Mungkin Ibu cuma butuh waktu. Orang emosi kadang butuh menjauh sebentar untuk menjernihkan pikiran."

Terdengar tawa getir yang kering dari seberang. Tawa yang terdengar sangat menyedihkan.

"Emosi? Menjernihkan pikiran?" Zarimuddin mengulang kata-kataku dengan putus asa. "Itu masalahnya, Nia. Tika tidak emosi. Sepulang dari pantai tadi, saat aku kira kami akhirnya bisa bicara baik-baik, aku menemukan ruang tengah kami penuh dengan koper dan kardus."

Aku menahan napas, membayangkan adegan itu di kepalaku.

"Dia sudah menyusunnya dengan sangat rapi, Nia," lanjut Zarimuddin, napasnya tersengal menahan tangis yang tertahan di kerongkongan. "Dia tidak menjerit. Dia tidak melempar barang. Dia bahkan tidak marah."

Lihat selengkapnya