Udara malam itu terasa tebal dan basah. Gerimis tipis yang menemaniku sejak dari kos kini berubah menjadi hujan lebat yang menghantam jalanan aspal Tanjung Pandan.
Aku berlari kecil menerobos tirai air, mendorong pintu kayu Warung Kopi Pak Rusdi yang berat. Lonceng kecil di atas pintu bergemerincing.
Mataku langsung menangkap siluet yang sangat kukenal di sudut ruangan yang agak remang. Jantungku serasa membeku.
Aku nyaris berbalik dan melangkah keluar lagi, tapi sebuah suara yang tenang dan serak menghentikanku.
"Duduklah, Nduk," kata Pak Rusdi lembut dari balik meja counter. Pria paruh baya itu mengambil sehelai handuk kecil bersih dan menyodorkannya padaku. "Hujan di luar terlalu deras untuk pulang sekarang."
Bukan perintah, tapi undangan yang sulit ditolak. Pak Rusdi seolah paham bahwa malam ini bukan tentang kopi atau menghindar dari hujan. Ini tentang dua orang yang harus menyelesaikan cerita yang sudah terlalu lama membusuk.
Dengan langkah berat, aku berjalan ke meja pojok itu dan duduk di hadapan Zarimuddin.
Pria yang selalu tampil karismatik itu kini terlihat seperti bangunan sisa kebakaran. Kemejanya kusut. Kantung matanya hitam. Bahunya yang biasanya tegap kini merosot jatuh. Di depannya, secangkir kopi hitam pekat sudah berhenti mengepulkan uap.
Pak Rusdi menaruh secangkir teh hangat di depanku tanpa diminta, lalu menepuk simpul tirai di dekat kami dan mundur ke balik counter. Sebuah bahasa sunyi dari sahabat lama: Ruangan ini aman, percakapan ini tidak akan keluar.
"Aku lelah pura-pura, Nia," Zarimuddin memecah keheningan. Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara hujan di atap seng, namun jernih. "Semua diam yang kau tangkap di kantor. Semua jarak yang kubuat. Tidak ada yang kebetulan."
Aku tidak menoleh. Aku hanya menggeser cangkirku setengah sentimeter, menahan porselen itu agar tidak bergetar.
"Dan malam hujan kau pilih untuk jujur?" tanyaku datar. Malam ini, aku menolak memanggilnya 'Pak'.
"Karena tidak ada yang lebih jujur dari air yang jatuh," balasnya. Ia menelan ludah, menanggalkan keanggunan kalimat yang biasanya ia gunakan di ruang rapat. "Rania... aku mencintaimu."
Hening. Hujan menebalkan jeda di antara kami.
Aku menatap ke dalam cangkir tehku. Kalimat itu bukan kejutan bagiku; yang membuatku bergeser di kursi adalah cara ia mengucapkannya---tanpa metafora, tanpa pagar pelindung.
"Aku tidak berniat jahat," bujuk Zarimuddin pelan, seolah sedang membujuk dirinya sendiri. Tangannya bergerak ingin meraih jemariku di atas meja, tapi dengan cepat ia menariknya kembali. "Aku hanya ingin menikmati masa ini denganmu. Berbagi segalanya. Tapi dengan apa yang terjadi hari ini... Tika yang menggugatku, Pak Kaban yang memutasimu... aku membawamu ke dalam neraka ini."
Zarimuddin menatapku dengan mata yang memancarkan penderitaan telanjang.
"Satu-satunya cara untuk melindungimu sekarang," lanjutnya, suaranya bergetar penuh duka, "adalah dengan melepaskanmu. Aku harus menjauh agar kau bisa selamat."
Seandainya ini terjadi sebulan yang lalu, savior complex-ku pasti akan meledak. Otak delusionalku pasti akan menganggap ini sebagai pengorbanan cinta yang tragis.
Tapi hari ini, setelah aku dihakimi oleh Pak Kaban, setelah aku memikul kardusku sendirian dari Bappeda, kewarasanku akhirnya kembali.
Aku mendongak, menatapnya tajam. Kilat di mataku tepat mengenai kebodohannya.
"Berhenti membual," kataku. Suaraku tidak marah, tidak juga lembut. Hanya dingin. "Kenapa kau selalu mencari alasan agar terdengar heroik?"
Zarimuddin tertegun. "Nia, aku serius. Aku ingin melindungimu---"