Akuarium Rania

Muhammad Sapril
Chapter #32

Akuarium Baru

Senin pagi di Dinas Komunikasi dan Informatika terasa seperti melangkah ke planet yang berbeda.

Tidak ada bau kertas tua, tidak ada aroma kopi saset yang mengering di ujung cangkir, dan tidak ada dinding cat hijau pudar seperti di Bappeda. Gedung Kominfo beraroma perangkat elektronik baru, kabel server yang dipanaskan, dan udara AC sentral yang disetel terlalu dingin demi mendinginkan mesin-mesin data center.

Di sini, akuariumnya tidak diisi oleh ikan-ikan predator politik. Kubikel-kubikel di sini diisi oleh para programmer, ahli jaringan, dan analis data yang lebih suka menatap layar monitor bersinar biru daripada saling menatap mata.

Aku merapikan kerah seragam keki-ku, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah menuju ruang Kepala Dinas.

Pak Agus menyambutku dengan senyum kebapakan yang tulus. Pria paruh baya itu bangkit dari balik mejanya, wajahnya memancarkan kelegaan seorang pahlawan yang berhasil menyelamatkan aset berharga dari medan perang.

"Selamat datang di keluarga baru, Rania," sapa Pak Agus hangat, mempersilakanku duduk di kursi tamu. "Pak Kaban Harsono sudah menceritakan semuanya. Tapi di ruangan ini, kita tutup buku lama. Kita buka lembaran baru."

Aku tersenyum, merasakan sedikit beban di pundakku terangkat. "Terima kasih banyak, Pak Agus, sudah bersedia menerima saya di sini."

"Justru kami yang berterima kasih. Tim Satu Data kita sedang butuh orang yang otaknya jalan seperti kamu," Pak Agus tertawa renyah, sebuah tawa yang jujur dan tanpa agenda tersembunyi. "Kamu akan saya tempatkan di Bidang Statistik dan Persandian. Pekerjaanmu murni analitik, tidak perlu lagi pusing memikirkan lobi-lobi politik atau... dinamika lain."

Dinamika lain. Sebuah frasa sopan untuk menyebut skandal yang membuatku terbuang ke sini.

"Saya siap, Pak," jawabku mantap.

Namun, senyum hangat Pak Agus bukanlah penentu nasibku di gedung ini. Ia segera menekan tombol interkom di mejanya. "Bu Ratna, tolong ke ruangan saya sebentar. Staf baru Anda sudah tiba."

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit hingga pintu ruangan terbuka.

Udara di dalam ruangan itu seolah turun beberapa derajat begitu sosok itu melangkah masuk. Usianya akhir empat puluhan. Rambutnya dipotong pendek sebahu, sangat praktis dan tanpa layer yang macam-macam. Wajahnya bersih dari riasan tebal, hanya lipstik nude dan sebuah kacamata dengan bingkai hitam tegas yang bertengger di pangkal hidungnya. Tubuhnya dibalut setelan blazer abu-abu gelap yang berpotongan efisien.

Lihat selengkapnya